31 C
Kudus
Kamis, Februari 22, 2024

Hasil Produksi Garam di Jepara Tahun Ini Diperkirakan Naik Dua Kali Lipat

BETANEWS.ID, JEPARA – Musim kemarau yang diprediksi panjang oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) disambut antusias oleh petambak garam di Jepara. Salahs atu petambak garam, Sukahar (52) mengatakan bahwa kemarau panjang itu bisa membuat hasil produksi meningkat hingga dua kali lipat.

Sukahar mengatakan, jika tahun lalu dalam satu musim panen garam ia menghasilkan 1.200 tombong garam, tahun ini ia memperkirakan bisa memproduksi hingga 2.000 tombong.

“Satu lahan itu sekali panen sekitar tiga sampai empat hari sekarang bisa menghasilkan 15 tombong, kalau seminggu kan 30 tombong, dikali lima lahan berarti 150 tombong itu seminggu. Kalau sebulan bisa 600 tombong,” katanya saat ditemui di lahan garamnya di Desa Semat, Kecamatan Tahunan, Jumat (30/6/2023).

Baca juga: Musim Kemarau, Petani Garam di Batangan Pati Untung Melimpah

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa musim panen garam biasanya terjadi pada Mei sampai September. 600 tombong garam yang ia perkirakan akan dihasilkan dalam satu bulan tersebut juga masih bisa berubah, tergantung dari teriknya matahari. Jika musim kemarau semakin panjang maka hasil panen garamnya juga akan meningkat.

“Karena para petani garam ini memang masih terkendala cuaca, sebab dalam proses produksinya memang masih mengandalkan panas matahari,” katanya.

Makanya, saat musim hujan tiba, menurut Sukahar, para petani garam akan berpindah profesi menjadi petambak udang. Selain kendala cuaca, Sukahar mengungkapkan bahwa minimnya teknologi juga menjadi kendala bagi para petani sehingga berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas garam.

Baca juga: Bisa Kacaukan Harga, Petani Minta Pemerintah Tidak Impor Garam saat Panen Raya

“Teknologi ini kalau di sini baru pertengahan, jadi belum bisa mencapai kualitas dan kuantitas yang maksimal. Belum lagi masih banyak lahan yang belum digarap secara maksimal,” katanya.

Hasil dari garam tersebut menurut Sukahar masih dijual di sekitar area lokal Jepara. Garam-garam tersebut biasanya akan diambil oleh para tengkulak untuk dijual ke daerah lain.

“Kalau area penjualannya biasanya ke Solo, Jogja, Semarang, biasanya digunakan untuk peternakan, tekstil, kadang untuk pupuk pertanian,” ujarnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
6,574PengikutMengikuti
129,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER