BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Bidang SMP, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara, Ahmad Nurrofiq, mengatakan bahwa jumlah guru ukir yang dimiliki Jepara tidak mampu mengakomodir semua sekolah. Krisis guru ini mengakibatkan ada satu guru yang mengampu sampai tiga sekolah.
“Di masing-masing satuan pendidikan, guru ukirnya itu sangat terbatas, sebagian guru seni budaya itu juga berasal dari seni rupa, sehingga saat ini kita juga mengalami kesulitan guru,” katanya saat ditemui di Kantor Disdikpora Jepara, Senin (24/7/2023).
Hal tersebut menurutnya karena tidak ada perguruan tinggi yang menghasilkan lulusan sebagai guru ukir. Menurutnya, pengampu mata pelajaran seni ukir selama ini banyak yang diisi dari lulusan guru seni rupa.
Baca juga: Nasib Tragis Ekstrakurikuler Ukir di Kota Ukir, Susah Cari Tenaga Ahli
Menurutnya, ini masalah cukup serius karena ukir saat ini jadi ekstrakurikuler wajib di semua SMP. Makanya, persoalan sulitnya mencari guru ukir diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan (sekolah).
Ia menuturkan bahwa jika dinas diminta untuk memenuhi jumlah guru ukir sesuai dengan jumlah SMP di Jepara akan mengalami kesulitan.
“Untuk guru ekstrakurikuler memang kita bebaskan dari sekolah, karena untuk ketentuan honornya harus guru yang punya lisensi di bidangnya. Itu tanggung jawab dari satuan pendidikan untuk mencari gurunya,” katanya.
Baca juga: SMPN 6 Jepara Enggan Berikan Aset Museum Ukir ke Museum Kartini Jepara
Disdikpora justru mengharapkan jika adanya ekstrakurikuler ukir mampu menghasilkan para praktisi yang bisa mengampu mata pelajaran ukir.
“Kami dari dinas kan hanya bisa memberikan porsi kebijakan seperti itu, hanya saja kita juga kesulitan, untuk mencarikan kan juga tidak mungkin, dengan banyaknya jumlah SMP,” katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), Disdikpora Jepara, Susanto menambahkan bahwa jumlah guru ukir yang ada tidak lebih dari 60 orang guru.
Editor: Ahmad Muhlisin

