BETANEWS.ID, JEPARA – Hingga saat ini, SMPN 6 Jepara masih enggan untuk memberikan koleksi ukiran yang ada di Museum Ukir ke Museum Kartini Jepara.
Kepala Sekolah SMPN 6 Jepara, Darono Ardi Widodo mengatakan koleksi ukiran tersebut dijadikan sebagai ikon di sekolah yang dulunya merupakan sekolah ukir pertama yang ada di Jepara.
Baca Juga: Minim Anggaran, Gelaran Pentas Seni dan Pameran 100 UMKM di Porprov Jateng Dipastikan Gagal
Sehingga pada saat dilakukan audiensi bersama dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), SMPN 6 Jepara tetap ingin mempertahankan benda ukiran tersebut meskipun dengan konsekuensi harus mencari dana swadaya untuk perawatan benda-benda ukiran tersebut.
“Sewaktu audiensi dulu memang sempat diminta agar barang ukiran tersebut dipindahkan ke museum saja agar aman katanya, cuma dari pihak sekolah dan sesepuh yang dulu sekolah disini (ST yang kemudian berganti menjadi SMPN 6 Jepara) tetap menginginkan biar disini saja karena sebai ikon,” katanya, Selasa (18/7/2023).
Ia kemudian menjelaskan bahwa untuk perawatan bangunan museum ukir yang menjadi satu-satunya bangunan peninggalan dari sekolah ukir yang dulunya didirikan oleh Penjajah Belanda pada tahun 1929 itu bersumber dari Anggaran pemerintah kabupaten.
Sedangkan untuk perawatan benda-benda ukir yang juga sudah berusia hampir satu abad, Darono mengatakan bahwa sumber pembiayaannya selama ini berasal dari dana sukarela.
“Karena dana BOS sekarang ini memang diperketat sehingga tidak bisa jika kita anggarkan perawatan dari sana, sebagian perawatannya dari anggaran pemerintah daerah seperti untuk pengecatan bangunan sehingga bisa kita samakan dengan bangunan lainnya,” jelasnya.
Kondisi dari bangunan tersebut menurut Darono memang memiliki ketinggian yang sama dengan permukaan jalan sehingga pada saat hujan lantai bangunan mudah lembab.
Padahal banyak benda-benda bersejarah tersebut yang diletakkan langsung di atas lantai. Sehingga ia berupaya untuk mengajukan anggaran kepada pemerintah kabupaten agar dapat menaikkan ketinggian dari bangunan tersebut.
Baca Juga: Pemkab Jepara Dinilai Abai dalam Perawatan Museum Ukir
“Sudah kita ajukan anggaran ke Pemkab supaya lantainya itu bisa ditinggikan, hanya saja belum terealisasi,” ujarnya.
Selain tersimpan di bangunan museum yang bertuliskan Sasono Adhi Praceko, benda bersejarah hasil karya dari para siswa terdahulu juga masih tersimpan di ruang Kepala Sekolah berupa jam dinding yang membentuk logo dari Sekolah Teknik, Ukiran Wajah RA. Kartini, serta papan tulis yang tertempel di dinding Ruang Tata Usaha.
Editor: Haikal Rosyada

