BETANEWS.ID, DEMAK – Yayasan Kyai Ageng Giri Pesantren Girikusumo, memperingati tahun baru hijiriah dengan melaksanakan kirab Grebeg Suro. Kegiatan itu dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 1 Muharram.
Pada proses kirab Grebeg Suro Girikusumo, terdapat momentum yang paling ditunggu masyarakat. Yakni pembagian air kendi yang dibawa oleh pasukan patang puluh dari abdi dalem.
Baca Juga: Selama Pimpin Jateng, Ganjar Sudah Revitalisasi 84 Pasar dengan Anggaran Rp390,1 Miliar
Air kendi itu, diambil dari sumur peninggalan pengasuh terdahulu KH Muhammad Hadi bin KH Muhammad Tohir, yang dipercaya masyarakat membawa keberkahan bagi siapa saja yang meminumnya.
Salah satu masyarakat yang rutin mengikuti kirab Grebeg Suro Girikusumo, Kasmirah. Ia mengaku ingin mendapatkan air kendi untuk diberikan kepada cucunya yang sulit hamil.
“Saya ambil air buat syarat agar cucu cepat hamil dapat keturunan, seger, dan sehat. Tadi minta ke dua orang, tidak kebagian, ” katanya di halaman Yayasan Kyai Ageng Giri Pesantren Girikusumo, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Selasa (18/7/2023).
Sementara itu, menurut putra KH Muhammad Munif, Gus Hanif Maimun, air kendi tersebut sebelum kirab telah dibacakan doa-doa terlebih dahulu. Hal itu, ditujukan agar masyarakat mendapatkan keberkahan dalam peringatan tahun baru hijiriah.
“Sebelum kirab itu sudah dibacakan mujahadah bersama-sama oleh yayasan dan pondok pesantren, sehingga harapannya bisa bertawasul membawa berkah,” terangnya.
Tidak hanya itu, menggunakan kendi juga memiliki nilai filosofi tersendiri. Yakni, untuk menyadarkan manusia yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tempat asalnya.
“Kendi itu sebagai pertanda karena berasal dari tanah, itu mengingatkan kepada kita semua bahwa manusia berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga,” imbuhnya.
Baca Juga: KKP Bantah Wacana Pengerukan Pasir Laut Morodemak
Sedangkan jumlah pembawa air kendi yang berjumlah 40 orang dari kalangan abdi dalem, sebagai syarat menggenapi seseorang dalam belajar ilmu agama.
“Jumlah 40 sebagai pertanda di dalam suluk pesantren untuk melaksanakan belajar agama, setidaknya dilakukan 40 hari,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

