BETANEWS.ID, JEPARA – Di saat banyak anak kecil mulai meninggalkan mainan tradisional, Sentra Industri Kerajinan Mainan Anak-Anak yang ada di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara ini justru tetap eksis sampai sekarang. Tak Tanggung-tanggung tempat ini rajin mengekspor mainan ke luar negeri.
Ketua Kelompok Pengrajin Kitiran (KPK) Mekar Jaya, Sumarno, mengatakan, delapan dari sepuluh rumah yang ada di Desa Karanganyar memiliki usaha mainan anak-anak. Mereka biasanya menjadi salah satu pelaku dari empat item terbentuknya sentra industri, yaitu penyedia bahan baku, pemilik usaha, pengrajin, dan marketing.
Sumarno menjelaskan, mainan kitiran mulai masuk ke Desa Karanganyar sekitar 1975. Saat itu salah satu warga yang bernama Mudi membawa mainan tersebut yang ia beli dari Taman Sriwedari Solo. Sesampainya di Karanganyar, mainan tersebut kemudian dimodifikasi dan mulai dijadikan sebagai matapencaharian warga sekitar.
Baca juga: Pengrajin Mainan Anak Ekspor Jepara Belum Sejahtera
“Desa Karanganyar dulunya ya desa pertanian, tetapi dengan adanya mainan kitiran tersebut banyak yang sukses di mainan anak-anak,” katanya saat ditemui di kediamannya, Senin (12/6/2023).
Sementara julukan sebagai sentra industri mainan anak-anak menurut Sumarno diberikan oleh Bupati Jepara yang pada saat itu dijabat oleh Hendro Martojo di 2010. Hal itu dikukuhkan dengan pembangunan gapura yang berada di Desa Karanganyar RT 6 RW 2.
Selain kitiran, Desa Karanganyar juga memproduksi mainan lain seperti trotokan atau surungan, mainan tarikan yang memiliki berbagai jenis bentuk hewan mulai dari lele, tikus, udang, kepiting. Serta ada juga engkek-engkek yang terbuat dari kain perca yang di dalamnya berisi balon, dan mainan tarikan yang bisa bergerak berbentuk upin ipin.
“Bisa dibilang, masyarakat Karanganyar ini unik karena bisa mengolah hasil limbah menjadi sesuatu yang menghasilkan uang. Karena seperti trotokan ini bahannya kan dari limbah, dari evamet atau masyarakat menyebutnya spons. Itu dari limbah sandal, kemudian sayapnya itu dari mika,” jelasnya.
Ia menambahkan, dari semua bahan yang digunakan untuk membuat trotokan hanya bagian bulu yang terbuat dari kain rasfur, bagian tangkai yang terbuat dari bambu, serta karet gelang serta lem yang tidak menggunakan bahan limbah.
Baca juga: Mainan Jadul Kitiran Buatan Warga Jepara Ini Tembus Pasar Asia Tenggara, Sebulan Terjual Ribuan
“Jadi yang lainnya itu ya limbah, kayak mika ini ya kita dapat dari salah satu pabrik di kudus, kemudian di sablon sendiri. Sponsnya itu ya limbah semua, cuma ada yang tebel buat roda, yang tipis buat badan ayam sama lapisan buat pegangannya,” tambahnya.
Salah satu pengrajin, Fatoni (57), yang ditemui pada saat sedang merangkai mainan trotokan mengatakan, ia sudah 26 tahun menggeluti usaha tersebut. Mainan yang ia buat lebih banyak dijual ke luar Jawa, seperti Kalimantan dan Bali.
“Kalau Trotokan ini baru buat sekitar tahun 2015, kalau yang kitiran sudah dari 1997. Dulu masih dari kertas sekarang sudah ada perkembangan dari mika kemudian di Sablon,” katanya.
Editor: Ahmad Muhlisin

