BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa ekor sapi terlihat sedang diberi makan oleh seorang pria yang memakai baju berwarna abu-abu di sebuah kandang yang berada di Desa Getas Pejaten RT 7 RW 1, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Seusai memberikan pakan, pria bernama Azka Alminan (29) itu juga melihat perkembangan beberapa ekor sapi yang dirawat sebelum dikirim ke konsumennya.
Azka begitu ia akrab disapa lantas bersedia berbagi informasi tentang penjualan sapi menjelang Hari Raya Iduladha. Dia mengatakan, saat ini pihaknya sudah melayani pembelian hewan kurban yang disetorkan ke beberapa daerah, termasuk Jakarta. Menurutnya, tahun ini penjualan hewan kurban ada peningkatan hingga 70 persen dibandingkan tahun lalu.
“Saat ini sudah mulai ramai pembeli dari Jakarta maupun lokal daerah sekitaran Kudus. Sejauh ini sudah mengirim 4 kali ke Jakarta dan 8 ekor sapi dikirim ke Jepara, Demak, Semarang,” kata Azka kepada Betanews.id, Senin (5/6/2023).
Baca juga: Tahun Lalu Rugi Ratusan Juta Karena PMK, Lubis Bersyukur Tahun Ini Sapinya Laku Keras untuk Kurban
Ia menjelaskan, dalam satu pengirimannya pihaknya mengaku bisa memuat 12 ekor sapi yang dikirim ke Jakarta. Total saat ini pihaknya sudah mengirim sebanyak 50 ekor lebih.
“Untuk harga saat momen seperti ini juga bertambah. Selisih bisa naik antara Rp1 juta sampai Rp2 juta. Saat ini untuk harga hewan kurban berkisar antara Rp15 juta sampai dengan Rp20 juta. Harga tersebut dengan bobot 3 kuintal sampai 4 kuintal,” ungkapnya.
Baca juga: Berburu Kambing Kurban di Pasar Wage Mayong, Segini Harga-harganya
Meski saat ini marak penyakit Lumpy Skin Disease (LSD), kata Azka, hal itu tak jadi kendala. Karena menurutnya, penyakit kulit yang disebabkan dari genetik DNA itu merupakan penyakit yang tidak menular. Sehingga penjualan sapi ditempatnya itu masih tinggi.
“Kalau LSD ini tidak menular, jadi kalau dibandingkan dengan penyakit mulut dan kuku (PMK) jauh berbeda. PMK tahun lalu sangat berimbas pada penjualan, karena terkendala pengiriman. Kalau LSD ini alhamdulillah tidak ada kendala,” ujarnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

