31 C
Kudus
Kamis, Februari 22, 2024

Petambak Garam Jepara Sebut Alasan Pemerintah Tetap Impor Garam Karena Ini

BETANEWS.ID, JEPARA – Faktor cuaca masih menjadi kendala petambak garam tradisional di Jepara. Maka dari itu, musim kemarau jadi musim panen garam di berbagai daerah karena tiadanya teknologi untuk memproduksi salah satu kebutuhan pokok masyarakat itu.

Menurut salah satu petambak garam Jepara, Sukahar (52), minimnya penggunaan teknologi itu menjadi kendala yang berdampak pada kuantitas dan kualitas produksi garam yang bisa memenuhi standar nasional.

Petambak sedang mengolah air laut untuk dijadikan garam di Desa Semat, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jumat (30/6/2023). Foto: Umi Nurfaizah

“Di sini juga masih banyak lahan belum dimaksimalkan. Kalo teknologi sih sekarang kita sudah pakai membran, kalau dulunya kan langsung di tanah, sehingga kualitasnya bagus dan produksinya meningkat,” katanya saat ditemui di lahan garam miliknya di Desa Semat, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jumat (30/6/2023).

Baca juga: Bisa Kacaukan Harga, Petani Minta Pemerintah Tidak Impor Garam saat Panen Raya

Selain persoalan tersebut, impor garam juga jadi momok serius bagi petambak. Menurut Sukahar, impor garam bisa berdampak pada turunnya harga garam di tingkat petani. Meski, impor garam yang dilakukan pemerintah untuk saat ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

“Kebutuhan garam nasional sampai saat ini memang masih kurang, jadi pemerintah kadang-kadang masih impor. Kalau ini memang pemerintah impornya tidak seberapa, meskipun kebutuhan dalam negeri tetep masih kurang. Menurut data pas kemarin rapat di dinas itu 40 persen belum terpenuhi,” ungkapnya.

Baca juga: Musim Kemarau, Petani Garam di Batangan Pati Untung Melimpah

Sahar membeberkan, harga garam saat ini cenderung mengalami penurunan karena para petani garam sedang melakukan panen raya.

“Kalau harga sekarang itu Rp250-300 ribu per tombong dengan berat 80 kilogram. Kemarin sempat Rp450 ribu per tombong. Cuma karena ini bareng sama panen raya harganya cenderung turun,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
6,574PengikutMengikuti
129,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER