BETANEWS.ID, PATI – Suasana Salat Iduladha di Masjid Al-Muqorrobin, Desa Winong, Kecamatan/Kabupaten Pati, pagi itu meneguhkan adanya sikap toleransi antarumat beragama di wilayah tersebut. Tampak puluhan jemaah yang menjalankan salat meluber hingga teras gereja yang posisinya berhadap-hadapan.
Bukan kali ini saja, gambaran seperti ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ketika jemaah masjid penuh, sebagian mereka menggunakan teras gereja. Begitupun sebaliknya, jemaat gereja juga bisa memanfaatkan area masjid untuk parkir kendaraan jemaat dan lain sebagainya.
Baca Juga: Terinspirasi dari Banjarmasin, Sudar Bikin Warung Kopi Apung di Pati yang Hasilnya Menggiurkan
Apalagi, beberapa tahun ini, dua tempat ibadah Masjid Al-Muqorrobin dan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Desa Winong yang bangunannya hanya dipisahkan jalan desa tersebut itu, kini ditutup kanopi yang membuat seolah-olah masjid dan gereja disatukan.
“Jadi memang menjadi suatu hal menarik di Desa Winong dengan adanya masjid dan gereja yang berhadap-hadapan itu, itu menjadi salah satu gambaran bagaimana kita harus hidup bersama-sama sebagai saudara, hidup dalam toleransi,” kata Pendeta GKMI Winong, Didik Hartono.
Menurutnya, salah satu cara yang diwujudkan dalam sikap toleransi itu adalah, ketika umat Muslim ada salat Iduladha dan Idul Fitri, pihaknya juga mempersilakan teras gereja untuk dipakai. Hal itu, menurutnya menjadi tekad bersama dalam menjaga kerukunan, juga termasuk dari pihak masjid.
Didik mengatakan, sikap kerukunan dua umat muslim dan kristiani telah berlangsung puluhan tahun. Masyarakat saling menghormati dan saling toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya hidup di Pati tinggal melayani di Winong 20 tahun ini, dan saya merasakan melayani 20 tahun sikap toleransi itu muncul, dan diakui semakin ke sini semakin erat dan indah, ada banyak kegiatan dilakukan bersama-sama,” ungkapnya.
Bukan hanya itu, saat pihak masjid melaksanakan pembangunan. Umat kristen pun membantu pembangunan masjid, pun sebaliknya umat muslim membantu saat pihak gereja ada pembangunan.
“Artinya sikap toleransi yang muncul itu dalam kehidupan sehari masing-masing membutuhkan sesuatu kita bisa masuk membantunya,” kata Didik.
Didik mengajak seluruh masyarakat untuk menjalin persaudaran selamanya. Tidak ada dipisahkan oleh tembok agama hingga suku yang berbeda.
“Sering kami imbau semangat seduluran selawase, persaudaraan selamanya, tidak dipisahkan tembok-tembok agama suku dan sebagainya, sebab kita ini suadara, lingkup Pati, ini kita satu saudara NKRI apapun agamamu apaun sukunya, kita harus bersama-sama hidup dengan rukun dan toleransi,” ucapnya.
Baca Juga: Sudah Ada Sejak 1975, Sentra Industri Mainan Anak di Jepara Ini Tetap Eksis Meski Digempur Game
Sementara, Takmir Masjid Al-Muqorrobin Santrimo menjelaskan, masyarakat menjalin hubungan yang rukun. Menurutnya tidak ada masalah meski dua umat bergama hidup secara berdampingan di Winong.
“Saya kira tidak ada masalah, kemudian kerukunan di RW, Pak Didik (pendeta) ini juga ikut,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

