Ngopi, Diskusi dan Mengaji di Randu Jembagar

“Jadi di sini kami benar-benar punya kesempatan sinahu bareng, di mana orang yang belum pernah mengenyam kampus kami fasilitasi diskusi ala-ala ning kampus,” paparnya.

“Tapi di lain sisi ketika ramah-tamah, di luar acara formal mereka yang sibuk dengan dunia intelektual, mereka membumi. Karena diskusinya bisa soal memancing, randa (janda), dan sebagainya gitu,” kata dia.

Selain dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi, mereka juga berasal dari berbagai wilayah. Wilayah itu di antaranya Boyolali, Sragen, Solo, Karanganyar, dan dari berbagai daerah lainnya.

-Advertisement-

Untuk melandasi mereka hingga bisa menyatu adalah dengan bermajelis. Sehingga dalam setiap pertemunannya, mereka mendapatkan manfaat.

“Jadi lambaran dasarnya kita ngumpul ben ora sia-sia, lemeke (dasarnya) tetep ono majelise. Meskipun memang tidak seperti yang dilakukan neng pesantren-pesantren, para habib, para kiai, kami ya wis apa anane, sak nyamane jadi tidak ada aturan kudu ngene, nggak,” tuturnya.

“Tapi kita tetap nganggo alfatihah, nganggo bismillah yen utamanya untuk malam Minggu pon seperti ini kita bacaannya Yasin Fadhilah,” terangnya.

Majelis Randu Jembagar dibangun bersama-sama dan diprakarsai oleh Aziz sejak September 2019 lalu dan terus aktif hingga saat ini. Nama Randu Jembagar diambil dari kata Randu yang merupakan nama desa Randusari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER