Ngopi, Diskusi dan Mengaji di Randu Jembagar

“Katanya konon desa itu punya sejarah dan sebagainya. Randu kok ra ana (pohon) randune? Terus kami tanam di pojok cangkruk itu, kami tanam randu alas, kemudian randu itu jembagar, gagah, nah maka kami beri cangkrukan ini Randu Jembagar,” terangnya.

Kegiatan rutinan terus digelar di sebuah gubunk atau saung itu. Setiap malam Jumat digelar majelis dan membaca zikir, Tahlil, pembacaan Ratib Al Haddad, dan dilanjutkan dengan diskusi santai.

“Kecuali di malam Jumat Kliwon itu kadang ada tema tertentu dari teman-teman tertentu. Kemudian untuk selapan pisan (sebulan sekali) ada di malam Ahad (Minggu) Pon seperti ini tadi, baca Yasin Fadhilah bareng-bareng, mangan (makan) kembulan, ada diskusi tematik,” kata dia.

-Advertisement-

Aziz juga berharap semakin banyak kawan-kawan yang bergabung dan mengikuti majelis di Randu Jembagar. Ia berharap, majelis ini bisa menjadi wadah untuk masyarakat dan menyebarkan ke masyarakat sekitar rumah mereka.

Jan-jane (sebenarnya) tidak semuanya harus Islam yang ke sini, tidak membatasi agama apapun, cuma kami meyakini jika dari rahmatan lil ‘alamin itu untuk dibawa pulang ning panggone dewe-dewe (ke lingkungan masing-masing), gitu,” tuturnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER