BETANEWS.ID, BOYOLALI – Mendekati musim politik, banyak media yang memberitakan tingkah para politisi. Tak jarang para tokoh politik tersebut menggunakan simbol-simbol sebagai cara mereka menyampaikan pesan politik kepada masyarakat.
Hal ini dikatakan Ki Renda Agusta, Lurah Sraddha Sala dalam forum Randhu Jembagar, yang diselenggarakan di Desa Randusari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, belum lama ini. Dari berbagai macam metode komunikasi politik, katanya, ternyata saat ini masih bisa dijumpai model komunikasi politik Jawa. Mereka, para politisi juga memakai bahasa pada levelnya masing-masing.
“Sebenarnya komunikasi politik terutama Jawa itu punya satu medan yang sama yaitu bahasa dan simbol. Karena semua itu berangkat dari ruang agraris dan biasnaya itu punya ranah ruang yang simbolis, ada tanda tanda trrtentu yang harus dibaca,” kata Rendra.
Baca juga: Ngopi, Diskusi dan Mengaji di Randu Jembagar
Dia mencontohkan, seperti misalnya pada sebuah acara, salah seorang melakukan sebuah hal yang kemudian di balik gesturnya dapat dilihat sebuah simbol yang ingin disampaikan ke ranah politik.
“Ketika seseorang itu kumpul terus membuka acara politik, maka yang lain harus bersikap bagaimana, begitu etika yang sebenarnya masih ada di masyakakat Jawa hari ini,” katanya.
Dalam masyarakat Jawa, kata Rendra, ada beberapa istilah yakni dhupak bujang, èsěm mantri, sěmu bupati dan sasmita ratu. Dirinya menjelaskan, rupanya sampai sekarang gaya komunikasi politik itu sampai sekarang masih dipakai di dalam masyarajat Jawa.

