“Sebenarnya masih ya, walaupun berupa media. Kalau dulu kan warta itu hanya bisa tersampaikan dalam media misalkan verbal, jadi orang nonton wayang atau apa dia akan menangkap itu,” ujarnya.
Sedangkan dengan perkembangan dunia media saat ini, menurut Rendra, simbol tersebut dapat dibaca dalam wujud tulisan, audio maupun visual dan ternyata masih dipakai hingga saat ini.
“Misalkan pasemon itu tetap dipakai seperti disemukan dalam makanan, kemudian gestur tubuh ya, itu sebenarnya tanda-tanda yang sampai sekarang masih bisa terekam di dalam dunia digital,” ujarnya.
Apalagi, saat ini jumlah penduduk di pulau Jawa yang masih dominan, dan masih memiliki populasi terbesar di Tanah Air. Kendati demikian, masih banyak pula masyarakat awam yang kesulitan dalam memahami kode-kode dan simbol tersirat yang ingin disampaikan.
“Tetapi itu juga satu poin penting di dalam etik berpolitik. Saya pikir berpolitik tidak harus semua yang terang-terangan, ada seninya lagi-lagi medan bahasa itu menjadi seni di dalam berpolitik itu secara simbolik,” tandasnya.
Editor: Suwoko

