Ada yang unik dari pertunjukan wayang kulit di Gedung Ki Narto Sabdo Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (18/5/2023) malam. Dalam pertunjukan kali ini, sang dalang, Ki Purbo Asmoro harus melayani penonton yang memilih sendiri judul atau lakon yang harus dimainkannya.
Sebagai penyelenggara, Teater Lingkar yang berkerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, ini sengaja melibatkan interaksi penampil dengan penonton secara spontan. Sedangkan bagi dalang dan para pengrawit, metode tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Ini karena penonton menjadi penentu atas satu dari 99 lakon yang ditawarkan.
Metode tersebut dilakukan dengan membagi para penonton menjadi empat kelompok. Kemudian masing-masing kelompok memilih judul dengan saling bersepakat. Selanjutnya empat pilihan judul oleh empat kelompok itu diundi dengan cara hom pim pah. Untuk diketahui, hom pim pah adalah metode memilih pemenang yang biasa digunakan dalam permainan anak-anak.
Baca juga: Tradisi Unik Pernikahan Tebu, Digelar untuk Memulai Musim Giling
Hasil dari demorasi kecil-kecilan tersebut, terpilihlah lakon “Pandawa Dadu” sebagai judul dalam Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon ke-308 ini.
Pendiri Teater Lingkar, Suhartono atau lebih dikenal Maston mengatakan, metode ini sebenarnya bukanlah hal baru. Ia mengisahkan, pada masa lampau pertunjukan wayang memang tidak pernah bisa ditebak judul lakon apa yang akan dimainkan, sebelum penonton memilihkannya.
“Memang ini ada risikonya, bisa mengakibatkan pertunjukan tidak maksimal. Karena setiap lakon punya ciri khas sendiri dalam memainkannya, termasuk gendhing-gendhingnya. Tapi Ki Purbo Asmoro ini sudah piawai dan sudah klop dengan para pengrawitnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Daniel Hakiki yang menonton pertunjukan wayang kulit ini mengapresiasi metode penonton memilih lakon tersebut.
“Ini luar biasa, baru kali ini saya melihat. Ini menunjukkan betapa dalang itu menguasai 99 judul lakon yang ditawarkan,” pujinya.
Teater Lingkar merupakan kelompok kesenian yang konsisten dalam nguri-uri budaya Jawa. Pertunjukan wayang kulit setiap malam Jumat Kliwon ini adalah bukti riwayat panjang Teater Lingkar atas dedikasinya dalam pelestarian kesenian tradisional.
Baca juga: Tradisi Unik Khitanan di Desa Kedungwaru, Diarak Keliling Desa dengan Menunggang Kuda
Maston menuturkan, pagelaran wayang kulit malam Jumat Kliwon ke-308 ini sudah dimulai sejak 1991. Alasan dasar adalah keprihatinan terhadap wayang kulit yang tidak populer di kalangan anak muda masa kini.
Atas hal itu, Teater Lingkar membuat beberapa pembaruan, misalnya penggunaan bahasa Jawa yang mudah diterima anak muda, pemilihan lakon yang kontekstual dengan masa kini, serta pemadatan durasi pertunjukan tanpa mengubah cerita lakon.
Editor: Suwoko

