31 C
Kudus
Jumat, Februari 13, 2026

Pemkot Solo Targetkan 2024 Zero Stunting, tapi Sepanjang 2023 Malah Ada 1.050 Kasus

BETANEWS.ID, SOLO – Program 2024 Zero Stunting dari Pemerintah Kota Solo dinilai sulit terealisasi karena kasus stuntingterbilang masih tinggi. Bahkan berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo, sampai Mei 2023 ini ada 1.050 balita alami stunting.

Kemudian berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2021 lalu Kota Solo berada di angka 20,4 persen, sementara di 2022 turun menjadi 16,2 persen.

Kepala DP3AP2KB Kota Solo, Purwanti, menjelaskan, hasil data itu didapatlan dari penimbangan serentak terhadap risiko stunting di Kota Solo pada Februari 2023 kemarin. Selain angka itu, masih ada belasan ribu balita rawan kena stunting.

-Advertisement-

Baca juga: Bidan Puskesmas Purwodadi I Siap Tuntaskan Stunting dalam 3 Bulan

Purwanti menyebut, masalah stunting bukan hanya disebabkan karena asupan gizi yang kurang saja. Penyebab lain itu seperti kesejahteraan yang belum terpenuhi, dan juga kebersihan lingkungan tempat tinggal.

“Ada lagi kesehatan calon pengantin, kesehatan ibu hamil, ibu nifas, dan kesehatan bayi di bawah dua tahun,  juga bayi di bawah lima tahun,” katanya saat ditemui, Selasa (30/5/2023).

Selain itu, banyaknya fenomena pernikahan dini di Kota Solo juga menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus stunting.

“Banyak faktor membengaruhi stunting ini misalnya kehamilan di bawah 19 tahun, kehamilan dengan reproduksi yang belum matang ini rawan melahirkan bayi prematur yang rawan stunting. Yang rawan lainnya kehamilan di atas usia 35 tahun,” paparnya.

Dengan banyaknya kasus stunting ini, Purwanti tak menampik jika nol stunting di 2024 memang sulit direalisasikan. Hal yang bisa dilakukan adalah upaya untuk menekan angka kasus stunting, minimal nol kasus pada 2024.

Baca juga: Agar Angka Stunting Tak Tinggi, Ganjar Minta Remaja Putri Tak Menikah Dini

“Target di 2024 nol kasus baru, yang perlu diketahui masyarakat adalah penanganan stunting bisa dilakukan untuk bayi di bawah usia dua tahun. Kalau sudah di atas itu yang bisa dilalukan adalah mengurangi risiko komplikasi kesehatannya,” lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, menambahkan, pihaknya terus berupaya untuk menyelesaikan permasalahan stunting ini. Beberapa di antaranya adalah peningkatan gizi pada balita, dan juga meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga.

“Kolaborasi antar stakeholder harus kuat karena masalah stunting ini tidak hanya dari segi kesehatan saja. Ada faktor-faktor penyebab lainnya seperti kemiskinan. Kasus stunting kita masih tinggi, tapi kita berupaya untuk menuntaskan itu termasuk pada anak-anak yang mengalami stunting,” ujar Teguh.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER