BETANEWS.ID, SOLO – Lantunan ayat suci Alquran terdangar dari dalam Masjid Nurul Huda di Rumah Pelayanan Sosial (RPS) Disabilitas Netra Bhakti Candrasa, Kecamatan Laweyan, Solo, siang itu.
Beberapa orang tampak membawa Alquran, serta sebagian lainnya mendengarkan ayat-ayat suci yang dibacakan. Yang menarik, mereka membaca Alquran bukan dengan dibaca seperti biasa, melainkan dengan meraba.
Mereka adalah tunanetra, siswa di RPS Bhakti Candrasa yang tengah mengisi waktu siang di Bulan Ramadan dengan tadarus Alquran Braille.
Baca juga: Dua Napi Teroris di Lapas Pati Ikuti Pesantren Ramadan
Pengajar Rumah Panti Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa Surakarta, Sartono, menjelaskan, bukan perkara mudah bagi para penyandang tunanetra untuk membaca Alquran karena perlu keterampilan khusus untuk dapat membaca Alquran Braille dengan lancar. Kepekaan indera peraba harus diasah, serta mesti selaras dengan otak.
“Tantangannya yakni untuk mensingkronkan antara daya raba dengan otak. Kalau dipaksa biasnaya keluar air mata, ada yang pusing, makanya kita pembelajarannya sifatnya serius santai,” tuturnya, Sabtu (1/3/2023).
Setidaknya ada 45 hingga 50 penyandang tunanetra yang belajar di RPS Bhakti Candrasa Solo. Selain belajar materi lainnya, kegiatan tadarus dengan menggunakan Alquran Braille juga dilaksanakan setiap hari setelah ibadah salat zuhur.
“Belajar Alquran disediakan dua jam, seminggu ada yang dua kali ada satu kali tergantung kelompok,” katanya.
“Belajar Alquran ditambah selain di kelas, terus ada tadarus, ini ada di Ramadan maupun tidak, terus kajian. Nanti di malam hari untuk anak-anak belajar Alquran braille sendiri,” tambahnya.
Dikatakan Sartono, para penyandang tunanetra yang belajar di RPS Bhakti Candrasa memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, menjadi tantangan tersendiri baginya dan pengajar lainnya untuk mengajar dan memberikan materi.
Baca juga: Warga Binaan Rutan Kudus Mampu Khatam Al-Quran 4 Kali Selama Ramadan
“Untuk yang menemukan yang sudah sekolah biar tidak jenuh bagaimana, untuk yang belum biar materinya tidak terlalu tinggi bagaimana, terutama untuk belajar Alquran harus diberikan motivasi, harus diberikan dorongan agar tidak putus asa,” tuturnya.
Adapun siswa RPS Bhakti Candrasa harus melewati beberapa tahapan hingga dapat membaca Al-Quran Braille, dimulai dari pengenalan buku braille dengan kalimat abjad.
“Itu tahapannya ya tiga bulan awal huruf latin, kemudian berikut drngan penulisannya mengeja, kemudian 3 bulan kedua itu kita perkenalkan Iqro awal. Kemudian tiga bulan berikutnya itu iqro selesai, kemudian praktik membaca pelan-pelan (Alquran Braille) disemak. Jadi bertahap,” katanya.
Selain tadarus dengan Alquran Braille, para penyandang tunanetra juga dilatih untuk belajar hal lainnya. Seperti mengikuti kajian, serta materi-materi lainnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

