Malam Takbiran di Kutuk akan Digetarkan 20 Sound Horeg, Harga Sewa Rp 30 Juta

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 20 sound horeg akan memeriahkan malam takbiran di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Tak tanggung-tanggung, harga sewa satu paket sound horeg bisa mencapai Rp 35 juta.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Desa Kutuk Supardiyono, saat ditemui di kediamannya, Desa Kutuk, Rabu (19/4/2023). Dia mengatakan, ide mememeriahkan malam takbiran dengan sound horeg adalah ide para pemuda. Setelah dua tahun pandemi, pemuda di Desa Kutuk ingin menggelar malam takbiran secara meriah.

“Dulu sebelum pandemi di Desa Kutuk terkenal dengan pesta kembang api setiap malam Lebaran. Tahun ini ganti dengan sound horeg,” kata Supardiyono kepada wartawan.

-Advertisement-

Baca juga: Soal Takbiran, Kapolresta Pati: ‘Di Masjid Saja, Daripada Keliling Malah Jadi Hiburan’

Supardiyono mengungkapkan, 20 sound horeg tersebut didatangkan dari berbagai daerah di Jawa Timur, jumlah tersebut sesuai dengan musala dan masjid yang ada di Desa Kutuk. Sementara harga sewanya rata-rata Rp 30 juta, bahkan ada yang lebih mahal.

“Untuk uang sewa sound horeg swadaya para pemuda di Desa Kutuk, di setiap musala dan masjid. Iurannya juga tanpa paksaan,” bebernya.

Dia mengatakan, takbir keliling di Desa Kutuk nantinya dimulai setelah Salat Isya dengan titik kumpul di lapangan desa. Setelah sambutan baru nanti keliling kampung mengiring sound horeg.

“Semoga takbir keliling di Desa Kutuk berjalan lancar dan aman, serta khidmat. Warga Desa Kutuk hanya ingin memeriahkan malam takbiran untuk sambut kemenangan di Hari Raya Idul Fitri, tak ada misi lain,” ucapnya.

Sementara itu tokoh masyarakat Desa Kutuk, Ngateman, 20 sound horeg yang akan memeriahkan malam takbiran di Kutuk hanya dua yang berasal dari Kudus. Sedangkan sound yang lainnya berasal dari Jawa Timur.

Baca juga: Polres Demak Imbau Takbir Keliling Hanya Boleh Dilakukan di Jalan Desa

“Yang terkenal dan punya nama Sound Horeg itu kan memang dari Jawa Timur. Kalau harga sewa bervariasi, rata-rata di atas Rp 30 juta dan yang paling mahal itu Rp 35 juta,” ujar Ngateman.

Ngateman mengungkapkan, bahwa memeriahkan malam takbiran dengan sound horeg adalah inisiatif dari pemuda di Desa Kutuk. Sebenarnya, sesepuh desa sudah menasehati agar takbir keliling diselenggarakan secara sederhana.

“Namun karena sound horeg itu sudah dipanjeri di tahun lalu, sehingga tak bisa dibatalkan,” beber Ngateman.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER