BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara meluncurkan Layanan Jepara Care untuk melayani masyarakat yang butuh layanan berkelanjutan di Pendopo Kartini, Rabu (05/04/2023). Mereka ini terdiri dari penyandang disabilitas (difabel) terlantar, lansia terlantar, anak terlantar, hingga anak dengan HIV/AIDS (ODHA).
Jepara Care akan fokus untuk menyalurkan bantuan bagi masyarakat yang terintregasi dengan portal resmi dari pemkab jepara dengan nama jeparacare.jepara.go.id.
Terdapat 30 paket bantuan dengan 26 golongan masyarakat yang bisa menerima bantuan tersebut. Proses pengajuan bantuan juga dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat melalui aplikasi Jepara Care. Untuk mendapatkan manfaat program ini, masyarakat cukup menyediakan email aktif karena link pendaftaran akan dikirim melalui email tersebut.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jepara, Edy Sujatmiko, mengatakan, peluncuran program ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk saling peduli kepada sesama.
Apalagi di Jepara masih banyak persoalan sosial yang harus diselesaikan, termasuk angka kemiskinan. Meskipun, angka kemiskinan di Jepara tergolong kecil dalam lingkup Jawa Tengah.
“Ini wujud perhatian pemerintah kepada masyarakat Jepara yang kurang beruntung. Maka peluncuran program ini bukan akhir, tapi awal rangkaian perhatian dari pemerintah kepada masyarakat agar bisa tertangani semaksimal mungkin,” katanya.
Baca juga: Ikut Program Tuku Omah Oleh Omah, Warga Cuma Ngangsur Rp600 Ribu Sebulan Selama 10 Tahun
Dalam program tersebut, empat lembaga yang terlibat yaitu Dinsospermasdes, Dinkes, PMI, serta Baznas. Dinsospermades memberi bantuan berupa makanan dan alat bantu sesuai kebutuhan penerima manfaat; Dinkes memberi layanan kesehatan beserta obat yang dibutuhkan; Baznas memberi bantuan berupa sandang dan peralatan ibadah; PMI memberi paket susu anak atau nutrisi dan pampers.
Kepala Dinsospermasdes Kabupaten Jepara Edy Marwoto mengatakan, pada tahap awal ini diberikan kepada 64 penerima manfaat, terdiri dari tiga kategori dulu, yakni lansia hingga anak terlantar, disabilitas terlantar, dan kategori khusus anak dengan HIV/AIDS.
Editor: Ahmad Muhlisin

