BETANEWS.ID, JEPARA – Abdul Khafid (45) terlihat menata beberapa gerabah untuk dipanaskan di depan rumahnya di Dukuh Bendowangen RT 02 RW 02, Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Jepara. Produk dari tanah liat itu dikumpulkun menurut jenisnya.
Sehari-hari, Khafid memang banyak menghabiskan waktunya untuk mengurusi bisnis yang sudah ditekuni sejak 10 tahun lalu itu. Awalnya, ia mencoba meneruskan usaha pamannya yang terpaksa gulung tikar karena kesulitan memasarkan gerabah.

“Dulu paman punya pengrajin empat dari Rembang, empat asli Mayong. Karena nggak bisa memasarkan akhirnya yang asli dari Mayong saya kumpulkan, saya ajak kerja sama. Gambar dari saya, dan alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang,” katanya pada Betanews, Sabtu (01/04/2023).
Baca juga: Sehari Bisa Produksi Hingga Ribuan, Kharisma Genteng Pasarkan Produknya Hingga Malaysia
10 tahun menggeluti usaha gerabah, pandemi covid-19 jadi salah satu momen yang membuat bisnisnya melambung tinggi. Waktu itu, dirinya banyak menerima pesanan gentong untuk cuci tangan. Namun, sejalan dengan kasus Covid-19 yang menurun, penjualannya juga ikut turun.
Lagi-lagi, pemasaran menjadi kendala, meskipun setiap tahun selalu diadakan pameran dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara.
“Setiap tahun ada pameran tapi pengrajin malah rugi. Tempatnya memang gratis, tapi akomodasi kan ditanggung sendiri. Ketika di sana barang tidak terjual, hanya dilihat-dilihat. Sehingga dari dulu sampai sekarang tidak ada perkembangan,” ujarnya.
Untuk bisa menembus pasar luar negeri, ia juga mengaku masih kewalahan. Lamanya proses produksi membuat barang permintaan tidak bisa dikirim sesuai pesanan. Ia bercerita bahwa pernah memaksakan mengirim, tetapi di tengah jalan satu truk gerabah yang ia kirim semuanya hancur.Â
Baca juga: Penjual Mainan Gerabah Asal Jepara, Pemburu Event-Event Besar di Berbagai Daerah
Sehingga ketika datang pesanan dengan tenggat waktu yang ditentukan, ketika dari sisi pengerjaan tidak memungkinkan, ia lebih memilih untuk menolak pesanan tersebut.
“Kalau pesen itu sekitar satu bulan baru jadi. Karena memang prosesnya lama, mulai dari pengeringan sampai pembakaran. Pernah ada pesanan luar negeri itu satu truk hancur. Karena dari sisi pengerjaan dipaksakan. Makanya pengalaman itu mahal harganya,” katanya.
Editor: Ahmad Muhlisin

