BETANEWS.ID, SOLO – Ratusan kitab bersampul cokelat tertata rapi di Perpustakaan Masjid Agung Keraton Surakarta. Kitab-kitab itu ditulis dengan menggunakan aksara Pegon, yakni tulisan Arab yang jika dibaca menjadi tulisan berbahasa Jawa.
Sayangnya, beberapa di antaranya tampak berlubang dan bekas gerogotan rayap yang membuat tulisan-tulisan arab yang ada di dalamnya sukar dibaca.
Menurut Ketua Takmir Masjid Agung Keraton Surakarta, Muhtarom, setidaknya ada 107 manuskrip kuno yang telah ada sejak tahun 1600-an. Muhtarom memperkirakan bisa saja manuskrip itu umurnya lebih tua atau dibuat sebelum abad ke-16. Jenis-jenis media yang digunakan untuk menulis manuskrip itu juga berbeda-beda, ada yang kulit hewan dan juga kertas.
Baca juga: Situs Peninggalan Kerajaan Kalinyamat Kini Tak Terawat
“Boleh jadi pada Paku Buwana 2 atau 3 atau sebelumnya. melihat dari konstruksi media materialnya. Nah, yang kulit lebih tua,” tuturnya saat ditemui, Rabu (30/3/2023).
Muhtarom menjelaskan, para ulama zaman dahulu menulis kitab-kitab tersebut dengan menggunakan Bahasa Jawa, tapi menggunakan aksara Arab atau biasa disebut aksara Pegon.
“Dulu kan sebuah strategi. Orang Jawa dulu tidak menggunakan tulisan seperti ini. Semua ulama dan orang-orang dulu seperti itu. Mungkin ada maksud lain, saya kurang tahu,” paparnya.
Sebelum terkumpul seperti saat ini, manuskrip-manuskrip ini sempat memperihatinkan. Bukan hanya termakan rayap, bahkan pernah terendam banjir.
“Manuskrip kan barang antik dan rapuh. Apalagi dulu pernah dimakan rayap, pernah mengalami banjir tahun 1966 Solo banjir besar. Sangat berakibat pada eksistensi manuskrip sendiri,” katanya.
Untuk itu, beberapa upaya telah dilakukan oleh pihak Masjid Agung Karaton Surakarta, seperti membuatkan sampul cukup tebal, hingga melakukan digitalisasi pada 2007 lalu.
Baca juga: Mengenal Masjid Ni’matul Ittihad Mandung Demak yang Tiba-tiba Ada
“Kita adakan alih media secara mandiri atau kerja sama dengan Perpusnas dan UIN Solo. Ke depan manuskrip ini bisa dibaca dengan tidak membuka material (aslinya). Tapi dengan membuka media yang ada secara digital,” tuturnya.
Dengan upaya yang telah dilakukan, Muhtarom berharap agar kedepannya manuskrip ini tidak hanya sekadar ada, tapi mampu menjadi bahan kajian keislaman untuk penelitian.
“Itu ada hal-hal kemudian bisa diambil hikmahnya bisa kita terapkan ke depan sebagai khazanah keilmuan. Kemudian menjadi kebijakan dalam pengembangan keilmuan. Karena Masjid Agung ini kan sebagai pusat ilmu dulunya. Sehingga benda manuskrip itu tidak hanya jadi barang mati. Tapi nilainya hidup selama lamanya tidak akan mati kalau kita mampu mengelola itu,” tuturnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

