Gagal Panen, Petani di Jepara Minta Ada Keringanan Pinjaman Modal dari Bank

BETANEWS.ID, JEPARA – Setelah menunggu selama kurang lebih empat bulan, memasuki masa panen, merupakan waktu yang ditunggu oleh para petani. Dengan harapan, padi yang ditanamnya dapat menghasilkan gabah dengan kualitas yang layak jual. Namun, nasib pahit harus diterima petani. Salah satunya Reban (67), petani yang berasal dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara.

Dari empat hektare sawah yang ia tanami padi, hanya menghasilkan 12 kuintal gabah yang setara dengan hasil panen dari satu hektare sawah. Hal itu dikarenakan faktor cuaca, termasuk banjir. Hasil tersebut menurutnya tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Sehingga membuatnya mengalami kerugian.

Panen padi di Desa Troso, Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

Baca juga: Ratusan Hektare Tanaman Padi di Undaan Lor Gagal Panen Gegara Banjir, Kerugian Capai Rp 2,5 Miliar

-Advertisement-

Satu hektare sawah yang ia garap, membutuhkan biaya perawatan sebesar Rp 10 juta rupiah selama masa tanam. Dengan biaya sewa sebesar Rp 15 juta satu tahun untuk empat hektare. Sementara harga gabah yang ia jual sebesar Rp 5.300 per kilogramnya.

“Kalau yang saya hitung dengan kualitas yang sedang-sedang saja, dari empat hektare sawah yang ditanam, jumlah panennya itu hanya sekitar satu hektare. Biaya perawatannya Rp 10 juta satu hektare. Kalau tiga hektare tidak panen, berapa itu kerugiannya. tidak bsia hitung saya,” ungkapnya pada Betanews, Jumat (10/03/2023).

Dengan kondisi tersebut, ia berharap ada perhatian dari pemerintah. Katanya, selama ini bantuan dari pemerintah yang diberikan kepada para petani menurutnya sering tidak tepat sasaran. Banyak anggota kelompok tani yang sebenarnya bukan petani justru yang menerima bantuan. Sehingga para petani yang kesehariannya memang menggarap sawah sering tidak tersentuh dengan bantuan yang diberikan pemerintah.

Di desanya, ada delapan orang yang tergabung dalam kelompok tani, tetapi ia enggan untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Sebab ketika terjadi permasalahan yang dialami oleh para petani, solusi yang diberikan kerap tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

“Misal contohnya gini, kalau kumpulan kelompok tani, itu kan harusnya kumpul di lahan pertanian. Kalau kumpulnya di rumah kayak hadroh pengajian ya buat apa. Jadi kan kalau ada permasalahan begini, nanti diantisipasinya begini,” katanya.

Baca juga: Ribuan Hektare Sawah Kebanjiran, Ratusan Petani di Ketanjung Demak Gagal Panen

Menanggapi hal tersebut, ia berharap ada bantuan modal bagi para petani dengan angsuran cicilan yang memudahkan para petani. Sebab ketika gagal panen, petani membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk kembali menanam padi di sawahnya. Sehingga solusi yang seringkali diambil para petani agar tetap bisa menanam adalah dengan cara berhutang, baik kepada bank atau kepada orang yang mau meminjamkan modal.

“Bukan bibit yang kami butuhkan. Bibit itu harganya paling mahal Rp 75 ribu per lima kilogram. Itu petani masih mampu beli. Tapi kemudahan kredit, misalnya bunganya yang ringan. Jangka pinjamannya juga, kalau petani harus ngangsur pinjaman sebulan sekali ya uang dari mana buat bayar. Bantuanya juga kalau bisa tepat sasaran,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER