Karya Maestro Ukir Jepara Melenggang di Museum Nasional

BETANEWS.ID, JEPARA – Karya seni dari para maestro ukir di Kabupaten Jepara kini mendapat panggung istimewa melalui pameran bertajuk “TATAH” yang digelar di Museum Nasional Indonesia pada 29 Mei hingga 5 Juli 2026.

Pameran tersebut membawa mahakarya ukiran Jepara keluar dari citra komoditas massal menuju panggung seni murni (fine art) bernilai tinggi.

Ketua Pelaksana TATAH 2026, Veronica Rompies, memberikan penghormatan khusus kepada para seniman di akar rumput. Di balik gemerlapnya pameran di Jakarta, ada para penjaga warisan yang bekerja tanpa sorotan kamera.

-Advertisement-

“Di sudut-sudut desa di Jepara, ada tangan-tangan pengukir yang konsisten berkarya karena cintanya pada seni ukir. Meski nama mereka tidak selalu dikenal, tidak selalu didengar. Kepada mereka sesungguhnya kita memiliki utang,” tutur Veronica kepada Betanews.id, Kamis (30/4/2026).

Veronica berharap pameran ini bisa membawa dampak konkret yang tidak berhenti pada seremoni semata.

“Kami berharap dampak TATAH tidak hanya berhenti pada decak kagum, namun dapat dirumuskan menjadi sebuah sistem yang membuahkan solusi nyata untuk kelayakan, keberlanjutan, dan kesejahteraan para pahlawan ukir, penjaga warisan yang namanya tidak selalu kita kenal,” ujarnya.

Baca juga: Enam Budaya Jepara Diusulkan Jadi WBTb, Mulai dari Adat Pernikahan hingga Kirab Dewa

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat mengunjungi pameran tersebut menyoroti pencapaian artistik dan akar sejarah tradisi ukir yang begitu panjang.

“Seni ukir Jepara ini sudah berakar panjang di dalam sejarah kita. Paling tidak beberapa ratus tahun, bahkan lebih dari 500 tahun. Dan diawali dari ukiran-ukiran yang ada di Masjid Mantingan,” kata Fadli.

Lebih lanjut, Fadli mengatakan karya-karya yang dipamerkan menunjukkan tingkat keterampilan yang luar biasa. Ia berharap pameran ini membuka mata masyarakat luas bahwa talenta seniman Indonesia juga unggul pada medium kayu, bukan hanya di atas kanvas.

Sementara itu, kurator pameran, Suwarno, menjelaskan makna mendalam di balik pemilihan tajuk Suluk–Sulur–Jepara yang dirancang selama satu tahun terakhir.

“Seni ukir bukan hanya persoalan kepiawaian keterampilan, tetapi juga soal pengetahuan, laku, bahkan laku asketik—pertapaan estetik dalam mengkreasi bentuk,” jelas Suwarno.

Ia menegaskan, pengunjung tidak akan menemukan produk yang sekadar melayani pesanan konsumen industri. “Sesungguhnya Bapak Ibu nanti akan menemukan seniman-seniman pada level maestro yang bekerja dan berkarya atas dorongan ekspresi pribadi,” terangnya.

Hal senada ditegaskan oleh Bupati Jepara, Witiarso Utomo. Ia menyebut tatah atau alat pahat bukan sekadar perkakas, melainkan entitas spiritual.

“Tatah adalah perpanjangan tangan, bahkan perpanjangan laku spiritual dan jiwa para pengukir. Dari setiap ketukannya, lahir karya yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna,” kata Wiwit.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER