BETANEWS.ID, KUDUS – Tes seleksi pengisian perangkat desa (Perades) di Kabupaten Kudus yang dilaksanakan, Selasa (14/2/2023) menyisakan banyak masalah, khususnya yang menggunakan metode Computer Assisted Test (CAT) dengan penyelenggara Universitas Padjajaran (Unpad).
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Kudus, Adi Sadhono bahkan menyebut Unpad kurang profesional. Sebab, kampus tersebut pengumuman hasil tesnya molor dan berubah-berubah, sehingga bikin gaduh.
“Mungkin kurang kesiapan dan saya anggap Unpad kurang profesional dalam penyelenggaraan tes seleksi pengisian perangkat desa,” tegas Adi saat ditemui di Pendapa Kudus, Jumat (17/2/2023).
Baca juga: Ketua DPRD Kudus Geram Sikapi Pelaksanaan Seleksi Perades yang Dinilai Tidak Profesional
Menurutnya, dari lima perguruan tinggi yang bekerja sama dengan desa, Unpad mengampu paling banyak yakni 68 dari 90 desa. Harusnya, dengan peserta lebih banyak, persiapannya lebih matang dibanding perguruan tinggi lainnya.
Ia mengungkapkan, Unpad baru tahun ini bekerja sama dengan desa di Kudus dalam penyelenggaraan seleksi Perades. Karena pelaksanaan tesnya digelar di Kudus dan siap menyediakan hingga 5 ribu perangkat, sehingga banyak desa yang tertarik untuk bekerja sama.
“Baru tahun ini Unpad menyelenggarakan tes Perades di Kudus, sebelumnya tidak pernah. Dan, pemilihan perguruan tinggi tersebut kewenangan dari desa,” ungkap Adi.
Baca juga: Banyak Keluhan Terkait Seleksi Perades, Bupati Kudus: ‘Kalau Memang Harus Diulang, ya Monggo’
Dia pun mengaku, sudah ada beberapa peserta seleksi Perades yang tak puas dan melapor ke Dinas PMD. Namun, ia meluruskan bahwa para peserta yang melaporkan persoalan ketika seleksi Perades ke Dinas PMD adalah salah alamat.
“Sebab MoU (Memorandum of Understanding) perguruan tinggi itu dengan desa. Jadi tolong sanggahan itu sampaikan ke panitia desa. Kemudian panitia desa akan menyampaikan sanggahan para peserta kepada pihak perguruan tinggi,” pungkasnya.
Editror: Ahmad Muhlisin

