Puluhan Peserta Adu Tarik Suara dalam Lomba Tembang Macapat di Menara Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan peserta tampak menikmati Tembang Macapat yang dibawakan salah satu peserta di atas panggung dalam acara Lomba Tembang Macapat di Gedung Menara Kudus, Selasa (7/2/2023). Satu demi satu seluruh peserta yang mengikuti acara tersebut dipanggil untuk tampil dan bersaing dengan peserta lainnya untuk merebutkan juara.

Koordinator seksi lomba Rahman Hakim mengatakan, lomba tersebut bertujuan untuk menguri-uri budaya Jawa yang mulai pupus atau mulai tidak dikenal. Apalai, kesenian seperti ini juga sudah asing bagi generasi muda sekarang, khususnya masyarakat Kudus dan masyarakat Jawa pada umumnya.

Rahman Hakim, Panitia. Foto: Kaerul Umam.

Baca juga: Nasib Suram Tembang Macapat dalam Pentas Layang Bandang Teater Apotek SMK Duta Karya

-Advertisement-

Untuk itu, dalam rangkaian acara Ta’sis Menara Kudus ini, pihaknya memberikan ruang bagi anak muda untuk menumbuhkan semangat dan dapat turut serta dalam melestarikan budaya Jawa agar tidak punah ke depannya.

“Kegiatan seperti ini, nantinya dilaksanakan secara rutin, tidak hanya dari yayasan Masjid Al Aqsha Kudus, tapi dukungan dari dinas budaya, dari sekolah-sekolah, harus turut serta mendukung. Sehingga cita-cita kami semua ini tercapai untuk memelihara dan menguri-uri budaya Jawa,” jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk menarik minat para peserta, dalam lomba Tembang Macapat itu, panitia menyediakan hadiah total sebesar Rp 4 juta untuk 6 pemenang dari dua kategori yang diperlombakan.

“Jadi ada dua kategori lomba, pertama usia di bawah 13 tahun itu menembangkan Tembang Macapat Maskumambang Laras Pelok Pathet Nem. Kemudian yang kedua kategori usia 13-17 tahun, menembangkan Pangkur Laras Pelok Pathet Nem,” tuturnya.

Total sebanyak 52 peserta, yang ikut serta dalam lomba tersebut. Meski peserta mayoritas dari sekolahan di Kudus, namun dari Pati dan Jepara juga ikut serta memeriahkan acara itu. Bahkan menurutnya, sebagian besar peserta tampil dengan bagus dan terlatih.

Baca juga: Usung Judul ‘Jeritan-jeritan Kebisuan’, Teater Tigakoma Angkat Isu Kesehatan Mental

“Untuk peserta bervariasi ya, tapi sebagian peserta ini sudah cukup bagus, mereka terlihat dari didikan sanggar seni. Itu terlihat dari pembawaan cengkoknya, dari nadanya yang sudah tepat,” bebernya.

Ia menuturkan, ada tiga juri yang menilai puluhan peserta dalam lomba itu. Satu di antaranya merupakan guru spesialisasi Bahasa Jawa, dan dua lainnya dari praktisi karawitan yang semuanya sudah menjuarai tingkat nasional.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER