BETANEWS.ID, KUDUS – Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus terkenal dengan kondisi alam yang asri. Tidak hanya kebun tebu dan singkong, di sana juga ditanami buah nanas yang dijadikan agrowisata oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Singobarong dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sido Makmur Sejahtera.
Lahan seluas 1 hektare yang berada di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus itu, terlihat ditanami berbagai jenis buah nanas yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Ada yang masih berbentuk bibit dan siap panen.
Lahan tersebut merupakan Kebun Nanas Nusantara. Tempat ini, juga dimanfaatkan sebagai agrowisata.
Menurut Ketua BUMDes Sido Makmur Sejahtera Rubiyanti, Kebun Nanas Nusantara itu berdiri sejak satu tahun yang lalu. Inisiatif itu lahir, melihat lahan kebun yang mangkrak dan penghasilan dari hasil tebu dan singkong yang kurang menjanjikan, sehingga memunculkan ide yang berbeda.
“Kebun Nanas Nusantara di Kudus ini kan belum ada, jadi kami ingin menciptakan suasana yang lain,” katanya pada Betanews.id, Kamis (9/2/2023).
Tidak hanya itu, memilih nanas bukan tanpa alasan. Rubiyanti mengatakan, di salah satu dukuh di Desa Pedawang memiliki tradisi menanam mahkota nanas untuk menutup plasenta bayi. Akan tetapi, setelah buah nanas tumbuh berbuah, hanya dijadikan pajangan rumah, sehingga ia ingin memanfaat buah tersebut.
“Kami ada tradisi itu menanam mahkota nanas untuk menutup plasenta bayi. Nah daripada dijadikan pajangan saja, kenapa kita tidak memanfaatkan saja. Lalu kita coba deh, dan salah satu buah belimbing lokal khas kami ada yang berhasil dan kami namai Bimbing,” imbuhnya.
Salah seorang pengelola dari Pokdarwis Singobarong Rofi’i menerangkan, Kebun Nanas Nusantara selain dimanfaatkan sebagai wisata edukasi, juga mengambangkan dalam bentuk olahan berupa serat dari daun nanas.
“Daun nanas yang panjang kita pilih, lalu kita kembangkan menjadi serat untuk kita jual lagi ke pengusaha tenun,” terangnya.
Hasil penjualan serat, Rofi’i menjelaskan bisa menghasilkan 1 kuintal per bulan. Beberapa tempat bahkan telah menjadi langganan serat seperti Jakarta, Palembang, dan pabrik tekstil di seluruh Indonesia.
Baca juga: Desa Pedawang Canangkan Wisata Edukasi Kampung Nanas
“Kemarin dari Palembang meminta permintaan 40 ton serat, tapi karena kurangnya bahan, jadi kami hanya bisa mengirim kuintalan saja,” jelasnya.
Adanya Kebun Nanas Nusantara ini, Rofi’i berharap masyarakat di Kudus dapat meniru langkah dari masyarakat Desa Pedawang. Baginya buah ini sangat menguntungkan dan setiap bagiannya dapat dimanfaatkan.
“Kami ingin masyarakat lain bisa meniru, karena buah nanas ini unik dan setiap bagiannya tidak ada yang dibuang. Jadi sangat menguntungkan, dalam waktu 14 bulan sudah bisa dinikmati hasilnya,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

