Akibat Cuaca Ekstrem dan Tingginya Harga Solar, Sudah Dua Bulan Nelayan di Jepara Tak Melaut

BETANEWS.ID, JEPARA– Curah hujan yang tinggi disertai angin dan gelombang laut membuat para nelayan yang berada di Kampung Asem RT 03/RW 01, Kedung Malang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, tidak berani untuk melaut.

Apalagi, kebanyakan dari mereka adalah para nelayan kecil yang hanya melaut di sekitar kawasan pesisir Pantai Jepara.

Tidak Cuma faktor gelombang laut, naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, menurut nelayan juga menjadi faktor mereka memilih untuk tidak berangkat melaut. Biasanya, mereka membeli solar di pengecer dengan harga Rp 7 ribu per liter bahkan lebih.

-Advertisement-
Beberapa perahu nelayan berada di tempat tambatan. Foto: Umi Nurfaizah.

Baca juga: Ketinggian Ombak Capai 4 Meter, Nelayan Jateng Diimbau Tak Melaut

Untuk sekali berangkat, nelayan membutuhkan setidaknya 60 liter. Dengan jumlah tersebut, nelayan mengaku biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Sehingga banyak nelayan yang kemudian memilih untuk tidak melaut.

Sumarto (57) salah satu nelayan di kampung tersebut bercerita, bahwa ia sudah dua bulan tidak melaut. Kapalnya yang kecil tidak mampu menahan gelombang ombak yang tinggi. Sehingg untuk menutupi kebutuhan sehari-hari ia terpaksa berhutang.

“Kapal saya itu kecil, kalau berangkat hasilnya juga nggak nutup. Cuma buat ganti solar. Berharapnya sih ada bantuan untuk nutupi sehari-hari,” ungkapnya saat ditemui Betanews.id, pada Sabtu (18/02/2023).

Hal yang sama juga dialami oleh Sokib (65) yang sudah dua bulan tidak melaut. Ia terpaksa berhutang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan bantuan beras paceklik yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bagi para nelayan belum turun untuk wilayah Kedungmulyo.

Ditemui di tempat yang sama, Mukhlis (42) Ketua Kelompok Nelayang Kampung Asem menuturkan, bahwa selain tingginya ombak, naiknya harga solar masih menjadi masalah utama bagi para nelayan. Terutama para nelayan-nelayan kecil yang berada di kampungnya.

Baca juga: Kisah Darwati, Sosok Perempuan Nelayan Tangguh dari Tambak Polo Demak

“Jadi harga solar naik terus, sedangkan harga ikannya tetap sama, nggak seimbang. Beda dengan dulu, tahun 2003 harga solar masih 2.500/liter, itu nelayan jaya. Makanya ketika solar naik, nelayan menjerit. Itu saja sudah disubsidi, kalau nggak tambah menjerit,” ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menambahkan, banyak para warga yang kemudian membuat ikan asin. Namun lagi-lagi karena faktor cuaca yang sering tidak menentu, membuat ikan asin yang masih dalam proses harus dibuang karena busuk.

“Ya kemarin ada yang rugi sampai 500 ribu, intinya sih kami berharap, harga solar stabil, biar ekonomi nelayan juga stabil,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER