31 C
Kudus
Selasa, Juni 25, 2024

Thio Haouw Liep, Penjaga Terakhir Wayang Potehi di Semarang

BETANEWS.ID, SEMARANG – Siang itu, di Kelenteng Hoo Hok Bio, Kawasan Pecinan Kota Semarang tampak beberapa orang sedang latihan memainkan Wayang Potehi di tempat berbentuk kotak. Menjelang Imlek seperti saat ini, pihak kelenteng memang menerima banyak pesanan pentas dari berbagai tempat.

Namun, meski menerima banyak pesanan, rupanya hanya satu dalang yang sanggup memainkannya. Namanya adalah Thio Haouw Liep (53), penjaga terakhir Wayang Potehi di Semarang.

Ya, Wayang Potehi merupakan seni pertunjukan dari budaya peranakan Tionghoa yang pernah terkenal di Kota Semarang pada era 1950an. Namun seiring berjalannya waktu, seni pertunjukan tersebut terancam punah.

-Advertisement-

Baca juga: Sambut Imlek, 5.000 Lampion Sudah Terpasang di Kawasan Pasar Gede hingga Balai Kota Solo

Kini, di tangan Thio lah, kesenian itu bergantung untuk terus hidup di tengah masyarakat. Thio mulai belajar menjadi dalang Wayang Potehi selang setahun setelah bapaknya wafat pada 2014 lalu. Setelah belajar sekitar setahun, pada 2016 ia mulai berani mementaskan Wayang Potehi ke berbagai tempat hingga sekarang.

“Bapak saya sudah menjadi dalang sekitar tahun 1960an, lalu beliau wafat sekitar tahun 2014. Setelah bapak meninggal akhirnya Wayang Potehi itu terbengkalai, karena sayang akhirnya saya coba memberanikan diri untuk belajar,” ujarnya.

Tak mau wayang ini punah, Thio terus bergerilya mencarai generasi muda yang mau diajari menjadi dalang. Mereka datang dari berbagai latar belakang, ada pelajar hingga mahasiswa.

“Awalnya ya dari belajar musik dulu, baru selanjutnya belajar wayang. Sekarang total ada 6 dalang,” beber Thio.

Menurutnya, Wayang Potehi ini mulai dimainkan secara terbuka sejak berakhirnya Orde Baru. Mengingat, pertunjukan ini sempat terlarang pada era kepemimpinan Soeharto.

Baca juga: Marimas Bantu Mobil Pentas untuk Pelestari Wayang Potehi

Thio menjelaskan, Potehi sendiri berasal dari kata Pou yang berati kain, te berati kantong, dan hi berati wayang. Sehingga wayang potehi merupakan wayang yang berbentuk seperti boneka tangan yang berbahan dari kain, tetapi ada beberapa bagian yang terbuat dari kayu.

Cara memainkan wayang ini pun termasuk susah-susah gampang. Biasanya dalang akan memainkan boneka ini dengan 5 jari, tiga jari tengah untuk memainkan kepala, sedangkan ibu jari dan jari kelingking untuk memainkan tangan kanan dan kiri.

“Untuk bahasa yang digunakan biasanya menggunakan bahasa mandarin dan hokkien. Sedangkan koleksi kami ada sekitar 60-70 boneka. Harga Boneka Potehi ini lumayan mahal, satunya hampir Rp1 juta,” tambahnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
140,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER