BETANEWS.ID, KUDUS – Pada penghujung tahun 2022 dan awal tahun 2023, banyak wilayah di Indonesia harus menghadapi peningkatan cuaca ekstrem berupa angin kencang maupun curah hujan yang tinggi secara terus menerus.
Beberapa kawasan di Kudus terdampak banjir yang cukup parah sejak Sabtu (31/12/2022), dan dilaporkan belum surut hingga Sabtu (7/1/2023). Pemerintah Kabupaten Kudus kemudian menetapkan status darurat banjir, karena telah melanda 25 desa, 5 kecamatan. Terdata bahwa sawah seluas 7.945 hektare, dengan 48.181 jiwa telah terdampak, serta total jumlah pengungsi mencapai 907 orang.
Melihat dampak yang cukup besar, SMK Assa’idiyyah 2 Kudus yang merupakan sekolah berbasis pesantren tidak tinggal diam dan berhasil melakukan implementasi pembelajaran dalam bentuk penguatan karakter Profil Pancasila secara nyata melalui kejadian bencana banjir ini.

Baca juga: Salat di Gereja, Pengungsi Banjir: ‘Tak Khawatir dengan Salib, Kami Salat Saja dengan Khusyuk’
Ada beberapa nilai yang kuat tercermin dalam proyek sekolah ini, di antaranya mambangun karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak, bernalar kritis serta bergotong royong. Setidaknya tiga dari enam kompetensi atau dimensi kunci perwujudan Profil Pelajar Pancasila tersebut telah berhasil dikembangkan.
Sebuah kontribusi nyata dan bermakna dilakukan oleh para siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus saat bencana banjir melanda Kudus. Sebagai sekolah berbasis pesantren, siswa dan komunitas sekolah Islam ini mampu bergerak sukarela untuk memasak di gereja. Bergotong royong membuat dapur umum dengan kalangan gereja di Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Tanjung Karang Kudus.
Sebanyak 25 siswa jurusan Tata Boga dengan sigap terlibat langsung dalam mengolah masakan Indonesia dengan gizi yang baik untuk makan pagi, siang, malam, bagi warga korban banjir. Para siswa SMK Assai’diyyah 2 Kudus yang merupakan salah satu SMK binaan Djarum Foundation ini mampu memproduksi sebanyak 510 paket makan setiap harinya.
Dalam melakukannya, siswa juga berinteraksi secara langsung dengan sukarelawan lain, pengelola area pengungsian di GKMI Tanjung Karang Kudus, serta para korban banjir.
Inisiatif dan pengalaman ini, merupakan proyek yang sangat bermakna bagi siswa yang terlibat. Sebuah kompetensi yang kritis serta kontribusi gotong royong berbasis Problem Based Learning yang dikembangkan secara nyata untuk mengatasi permasalah di masyarakat terkait bencana banjir yang melanda Kudus.
Fatima Tuszahro, Siswi SMK Assa’idiyyah 2 Kudus, kelas 12 jurusan Tata Boga mengatakan, pengalaman ini memberikan tantangan dan tidaklah mudah. Namun lelah dan usaha yang telah dilakukan ternyata memberikan perasaan bangga dan haru.
“Tentu bangga karena bisa menolong masyarakat lain yang membutuhkan pertolongan kita”, ungkap siswi yang akrab disapa Farah dengan penuh semangat.
Baca juga: Banjir di Tanjungkarang Akibatkan Lalu Lintas di Jalan Kudus- Purwodadi Macet Hingga 1,5 Kilometer
Sementara salah satu pengungsi, Hesti Kristiyana (45) menyampaikan, sudah sepekan mengungsi di GKMI Tanjungkarang. Dia sangat salut dengan yang dilakukan para siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus.
Kegiatan yang dilakukan para siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus ini menurutnya patut dicontoh. Sebab, siswa SMK mampu memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat dengan berbekal keterampilan setara industri yang dipelajarinya saat dibangku sekolah vokasi.
“Saya tidak menyangka, bahwa gerakan ini diinisiasi oleh siswa SMK, mereka benar-benar luar biasa. Selain karena inisiasi untuk membantu sesamanya yang sedang kesulitan, bantuan yang diberikan benar-benar optimal, rasa dari masakannya tidak kalah dengan restoran-restoran yang ada. Hebat,” tuturnya.
Editor: Kholistiono

