Pernah Rugi Rp 50 Juta, Ayik Pantang Menyerah Budidaya Cacing dan Kini Sebulan Bisa Panen 1 Ton

BETANEWS.ID, KUDUS – Noor Farid (34) siang itu tampak membantu seorang pria yang tak lain adalah karyawannya di sebuah tempat budidaya cacing yang berada di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tak lama kemudian ia mengecek perkembangan cacing yang di budidaya dengan memasukkan tangan ke media yang tersedia.

Setelah dibalik terlihat banyaknya cacing itu berada di dalam tumpukan kotorannya yang biasa disebut kasing. Sembari memperlihatkannya kepada Betanews.id, Ayik begitu akrab disapa menuturkan, bahwa dalam usahanya beternak cacing itu ia pernah merugi hingga Rp 50 juta. Namun itu tak membuatnya patah arang dan merah kesuksesan dalam berwirausaha.

Baca juga: Selain Perawatannya Mudah, Budidaya Cacing Untungnya Juga Menggiurkan

-Advertisement-

“Pernah rugi banyak saya mas di usaha cacing ini. Tapi saya tidak takut dan sampai saat ini masih konsisten dengan budidaya cacing jenis ANC,” beber Ayik kepada Betanews.id, Sabtu (14/1/2023).

Ia menjelaskan, ia memulai membudidaya cacing jenis ANC itu sejak 2016 lalu yang bermula ingin membuat pakan mandiri. Sebab saat itu ia mempunyai ikan hias maupun lele yang sebelumnya ia budidaya kan terlebih dahulu. Lantaran ingin menghemat pakan dari budidaya ikan ia kemudian budidaya cacing jenis ANC.

“Intinya saya itu awalnya karena ingin membuat pakan mandiri dari budidaya ikan lele maupun hias. Karena cacing ini proteinnya sangat bagus, dan untuk perkembangan ikan juga cepat,” ucapnya saat ditemui di kandang.

Menurutnya setelah mempelajari beberapa bulan, cacing yang di budidaya itu tidak merepotkan dan terbilang simpel. Untuk makanan yang diberikan hanya limbah organik yang bisa didapatkan di pasar maupun toko buah.

“Cacing ini sangat menguntungkan karena apa, makanan dan perawatannya tidak sulit di dapatkan dan dipelajari. Untuk jenis cacing ANC ini mulai fungsi yakni bisa untuk pakan ternak, pemancingan, dan bisa dibuat obat,” ungkapnya.

Untuk budidaya cacing itu misalkan punya 1 kilogram cacing, kata Ayik, bisa menjadi 10 bahkan hingga 13 kilogram cacing dalam waktu tiga bulan. Itu sebabnya, hingga saat ini ia masih menekuni bagikan ingin tambah mengembangkan usaha ternak tersebut.

“Kalau harga per kilogramnya itu lumayan. Karena saya melayani pembeli dari tengkulak maupun ecer, untuk ecer harga Rp 50 ribu perkilogram, sedangkan kepada bakul saya jual Rp 30-35 ribu,” rincinya.

Ia mengisahkan, kegagalannya hingga merugi sampai Rp 50 juta tersebut lantaran kendala pengiriman yang pada saat itu ia belum mengetahuinya.

Baca juga: Dengan Modal Rp 100 Ribu, Farid Kini Punya Omzet Puluhan Juta Sebulan dari Ikan Cupang

“Jadi waktu saya sudah memiliki ilmu untuk budidaya cacing itu ada kendala lain di pengiriman cacing ke tempat pemesan. Cacing yang saya kirim itu ternyata stres yang membuat pemesan tidak jadi membeli. Alhasil ya rugi, tapi tidak masalah itu sebagai pengalaman supaya tidak terjadi hal serupa,” terang bapak dua anak tersebut.

Warga Desa Getas Pejaten RT 1 RW 2, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga dari budidaya ternak cacing, yang nantinya akan dikembangkan lagi.

“Rencana mau menambah tempat lagi, agar cacing tambah banyak karena saat ini belum bisa mencukupi kebutuhan pasar,” tandasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER