BETANEWS.ID, DEMAK – Wilis Janu (30) terlihat sedang melipat beberapa potong kain di bagian tengah rumah produksi batik miliknya di Desa Sedo RT 1 RW 1 Kecamatan/Kabupaten Demak. Di batik yang punya warna terang itu terilihat didominasi oleh corak blewah yang jadi produk pertanian unggulan desa tersebut.
Bagi Wilis dan warga Seda lainnya, blewah sudah jadi mata pencaharian yang tak terpisahkan. Oleh karenanya, ia ingin lebih mengenalkan blewah ke pangsa pasar yang lebih luas dengan melalui batik.

Wilis lalu menceritakan awak mula dirinya memulai usaha batik bernama batik Ijo pada 2012. Waktu itu, ia menyisihkan sebagian gajinya sebagai guru selama empat tahun untuk membeli cap batik. Setelah lulus kuliah multimedia, Wilis lalu fokus mengembangkan batik.
Baca juga: Cantiknya Batik Motif Blewah dari Sedo Demak yang Sukses Pikat Pembeli hingga Belanda
“Saya mulai nyicil itu tahun 2012 masih sendiri, mulai dari peralatan itu saya beli nyicil dari hasil gaji saya kumpulkan untuk membeli cap,” katanya pada betanews. id, Sabtu (31/12/2022).
Keahlian membatik ia dapatkan saat bekerja serabutan di produksi batik di beberapa tempat. Melalui pengalaman itu, Wilis bisa mengembangkan berbagai motif khas Demak dan Desa Sedo.
“Jadi saya dulu kerja serabutan, untuk membiayai kuliahnya saya kerja apa saja. Bisa tahu batik karena pernah bekerja membatik di Kendal, Mangunjiwan Demak, dan Pekalongan,” imbuhnya.
Baca juga: Bermula Koleksi Batu, Andhini Kini Bisa Hasilkan Cuan dari Aksesoris Batu Dhien Art
Selain memproduksi batik, Wilis juga membuka kelas edukasi untuk anak-anak sekolah hingga umum. Sedangkan untuk harga per potong kain dengan ukuran 2 meteran, ia jual mulai harga Rp75 ribu hingga Rp1 jutaan untuk batik cap dan tulis.
“Kita juga ada kelas edukasi, untuk setingkag TK, PAUD mewarnai per anak mulai Rp10 ribu. Terus ada yang paket lengkap sekalian peralatan Rp1,5 juta,” terangnya.
Untuk mengenangkan usahanya, ke depannya Wilis akan membuat berbagai kerajinan dari batik buatanya, seperti baju, sepatu, tas, dan lain-lain.
Editor: Ahmad Muhlisin

