BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan kolam terlihat di Kebun Lele Besito Farm yang berada di Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Di sana, seorang pria tampak sedang memberi makan dengan pelet yang diwadahi gayung. Setelah memberi makan, ia terlihat berpindah ke area pembibitan untuk melihat hasil pengembangbiakannya.
Pria bernama Benidektus Brian Yusnianto (27) itu baru enam bulan ini mengembangkan budi daya ikan nila menggunakan sistem bioflok. Meski baru sebentar, dirinya sudah merasakan hasil yang menjanjikan di sistem yang bisa menghemat biaya pakan dan hemat air lantaran tidak perlu diganti itu.

Di Kebun Lele, kata Brian, ada 55 kolam yang terdiri 42 kolam pembesaran, 8 kolam pendederan, dan 5 kolam indukan. Untuk ukuran kolam ikan berdiameter 2,5 meter dengan populasi ikan 400 ekor per kolam.
Baca juga: Tempat Budi Daya Ikan Nila di Gebog Ini jadi Jujugan Banyak Orang Lho, Yuk Intip Harganya
Brian begitu ia akrab disapa lantas bersedia membagikan tips bagi pemula untuk budi daya ikan nila dengan sistem bioflok. Menurutnya, cara tersebut punya keunggulan karena bisa menghemat pakan, lantaran kultur air menggunakan bakteri baik untuk mengurai kotoran dan bisa dimakan.
“Kenapa sangat hemat karena bioflok merupakan sistem dengan kultur air yang bagus, menggunakan bakteri baik yang bisa mengurai amoniak atau kotoran ikan menjadi pakan tambahan bagi ikan ternak,” kata Brian kepada Betanews.id, Sabtu (17/12/2022).
Selain itu, beber Brian, air kolam tidak perlu diganti mulai ikan dimasukkan ke kolam hingga panen. Sebab dalam sistem itu ia menggunakan aerator sebagai penghasil tambahan oksigen dalam kolam yang sangat dibutuhkan ikan.
“Jadi sistem ini sangat hemat dalam budi daya ikan nila. Kita bisa menghemat dalam pemberian pakan maupun air yang tidak perlu di gonta-ganti selama kurang lebih 6 sampai 7 bulan,” terangnya di lokasi kolam.
Adapun untuk langkah awal budidaya ikan nila adalah menyediakan media kolam dengan hitungan volume air untuk mengetahui berapa ekor ikan yang bisa masuk dalam kolam tersebut. Hal tersebut agar bisa memaksimalkan pertumbuhan ikan hingga panen.
Baca juga: Tips Beternak Ayam Petelur, Bisnis Menggiurkan yang Bagi Pemula pun Bisa
“Kemudian siapkan molase, prebiotik, dan garam krosok untuk meningkatkan kualitas air dan membantu percepatan pertumbuhan ikan yang menyerupai habitat ikan aslinya. Untuk perbandingan volume air per meter kubik, takaran molase 100 gram, prebiotik 10 gram, dan 1 kilogram garam krosok,” tutur pria yang tercatat sebagai warga Padang, Sumatra Barat.
Setelah itu, lanjut Brian, diaplikasi ke dalam kolam yang aturannya, pertama satu pekan, kedua pemberian bisa dilakukan setelah dua pekan, yang ketiga empat pekan, dan terakhir empat pekan lagi. Hal itu supaya air dalam budi daya bisa bertahan dan mempertahankan kualitas air.
Sementara untuk pemberian pakan, ia melakukannya dengan menyesuaikan bobot dari ikan yang tersedia. Biasanya ia memberi pakan pelet 3 persen dari bobot ikan yang dilakukan pagi dan sore. Ia menambahkan, dengan sistem bioflok mulai dari pemijahan hingga panen perbandingan hasilnya itu satu banding satu. Misalnya jika mengeluarkan pakan 1 kuintal nantinya juga menghasilkan 1 kuintal ikan juga.
“Kalau pemberian pakan kebanyakan akan berakibat kualitas air dan jika pemberian pakan kurang pertumbuhan ikan kurang maksimal. Jadi harus di pastikan pemberian pakan sesuai ketentuan yakni 3 persen dari bobot ikan,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

