31 C
Kudus
Sabtu, Februari 4, 2023
BerandaKOMUNITASKumpulkan Anak dan...

Kumpulkan Anak dan Istri Sebelum S3, Edy: ‘Nanti Jangan Protes Kalau Hidup Kita Susah’

BETANEWS.ID, KUDUS – Ada kisah haru di balik diraihnya gelar Doktor oleh Edy Supratno, seorang sejarawan di Kudus, yang juga pendiri dan anggota Forum Kalen. Sebelum menentukan menempuh pendidikan S3, Edy mengumpulkan anak dan istrinya. Kepada mereka, Edy meminta izin untuk melanjutkan pendidikannya.

Singkat cerita, anak dan istrinya menyetujui Edy untuk bisa meraih gelar Doktor. Namun, kepada anak dan istrinya, Edy meminta agar mereka nanti tidak protes, jika hidup mereka akan susah.

Baca juga: DR Edy Supratno Ungkap Peran Pengusaha Kretek Kudus Saat Kemerdekaan di Disertasinya

Kisah ini diceritakan Edy saat dirinya menyampaikan pidato ilmiah dalam acara syukuran yang diselenggarakan Forum Kalen, atas diraihnya gelar doktor oleh dirinya, di Kebun Pecuk Pecukilan, Kudus, Rabu (14/12/2022) malam.

“Ini baru pertama kali saya ceritakan. Mereka saya kumpulkan di tempat makan, dan saya minta izin untuk menempuh pendidikan S3. Mereka setuju, tapi saya meminta mereka siap hidup susah, karena saya menempuh S3 dengan modal tipis,” ungkap Edy kepada para tamu undangan yang hadir.

Setelah mendapat izin dari keluarga, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Budaya Islam (STIBI) Syekh Jangkung, Pati, ini masuk Jurusan Ilmu-Ilmu Humaniora pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gajahmada (UGM) pada tahun 2017. Edy menceritakan, masalah pertama yang dihadapi adalah tempat tinggal di Yogyakarta. Dirinya berusaha mendapat tempat kos gratis.

“Saat itu saya mendapat tempat Sarekat Joglo Abang. Tapi masalahnya, jarak antara Joglo Abang dengan UGM itu 9 kilometer. Akhirnya terpaksa saya jalan kaki dari tempat kos ke kampus,” tutur Edy.

Ada kisah menarik lain yang diceritakan Edy mengawali pidato ilmiahnya. Karena jarak yang ditempuh sangat jauh, Edy ingin menggunakan sepeda yang disediakan kampus, untuk pulang ke kos. Akhirnya, tanpa seizin pihak kampus, sepeda itu dibawa pulang ke kos.

“Di kemudian hari, saya menyampaikan itu ke pihak satpam kampus. Dimarahi saya. Lalu saya diminta untuk mengajukan permohonan ke pihak Dekanat. Saya ajukan suratnya, tapi Dekan meminta saya untuk mengajukan surat ke pihak aset kampus. Saya menilai, ini penolakan secara halus,” kenang Edy.

Setelah 11 semester, Edy akhirnya berhasil mempertahankan disertasinya berjudul  “Nasionalisme dalam Filantropi: Kolaborasi Politik Pengusaha Rokok Kretek Kudus dengan Kelompok Nasionalis Tahun 1909-1949”.

Dalam inti pidatonya, Edy mengungkapkan alasannya memilih judul tersebut. Dia ingin mengungkap fakta sejarah terkait kontribusi para pengusaha rokok kretek di Kudus pada masa kemerdekaan.

Baca juga: Malam Ini Forum Kalen Gelar Syukuran untuk DR Edy Supratno

Berdasarkan penelitian yang dibuat untuk disertasinya, ditemukan fakta bahwa di Kudus pernah menjadi tempat rapat Kelompok Budi Utomo. Ada juga pengurus dan anggota yang dari kalangan masyarakat Kudus. Dan dukungan luar biasa didapat oleh para pengusaha rokom kretek di Kudus.

“Ada kolaborasi antara nasionlis dan pengusaha rokok kretek di Kudus. Bahkan pada periode berikutnya, ketika Sarekat Islam berdiri, banyak sekali masyakat Kudus yang jadi pengurus dan anggota. Dan pengusaha rokok kretek jor-joran memberikan dukungan. Termasuk Mbah Nitisemito, yang sangat mendukung,” tuturnya.

Dalam acara syukuran ini, hadir sejumlah pihak yang memiliki relasi langsung dengan Edy Supratno dan Forum Kalen. Sejumlah pihak tersebut di antaranya, para dosen STIBI Syekh Jangkung, keluarga Nitisemito, Museum Kretek Kudus, dan sejumlah pihak lainnya.

Editor: Suwoko

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,383FansSuka
13,322PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
100,000PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler