Banjarejo, Desa di Grobogan yang Punya Tiga Museum Purbakala

0

Di sebuah taman yang berada di halaman Balai Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, terlihat Patung Ganesha Tidur yang sangat ikonik. Tak jauh dari patung tersebut, terdapat bangunan museum yang menyimpan berbagai jenis benda bersejarah. Tidak hanya satu, desa ini memiliki tiga museum, satu di antaranya Museum Banjarejo.

Museum Banjarejo yang menyimpan berbagai benda peninggalan. Foto: Kaerul Umam

Memasuki museum yang berada di komplek balai desa itu, Tim Beta Explore ditemani Kepala Desa Banjarejo, Ahmad Taufik. Sambil menunjukan fosil-fosil di museum tersebut, Taufik menjelaskan, ada sekitar 1.400 temuan fosil yang kini menjadi benda koleksi museum di desanya.

“Koleksi yang kami miliki ada banyak, ada fosil prasejarah dan benda-benda masa klasik Hindu Budha. Benda-benda penemuan ini kami simpan di tiga museum,” kata Taufik yang ditemui Tim Beta Explore, beberapa waktu lalu.

Banner Ads

Pada tahun 2015, kata Taufik, pihaknya menemukan patung Joko Linglung dan Bajil Putih. Setahun setelah penemuan tersebut Desa Banjarejo ditetapkan sebagai desa wisata.

Taufik menjelaskan, Desa Banjarejo memiliki dua jenis peninggalan, yakni peninggalan pada masa prasejarah dan masa klasik Hindu budha. Untuk koleksi benda masa prasejarah ditemukan fosil hewan purba.

“Koleksi prasejarah kami punya fosil gigi hiu, karang, kepiting, kudanil, buaya muara, buaya sungai, gajah, rusa, banteng dan badak. Sedangkan pada masa klasik Hindu budha, kami memiliki coin seberat 150 kg, perhiasan, gerabah, batu bata dan lesung berukuran besar,” ungkapnya.

Fosil kerang, satu peninggalan prasejarah di Museum Banjarejo, Groboban. Foto: Kaerul Umam

Desa tersebut memiliki dua tempat untuk menyimpan fosil, yakni di Rumah Fosil Banjarejo dan Museum Lapangan Gajah. Satu museum lainnya yakni Museum Banjarejo yang berlokasi di balai desa, digunakan untuk untuk wisata edukasi dengan mengutamakan narasi-narasi sejarah.

“Museum Banjarejo yang untuk wisata edukasi, karena lebih banyak tulisan penjelasan di sini. Kemudian Museum Lapangan Gajahan, di dekat sendang gandri, Dusun Kuwojo. Di sana banyak temuan fosil gajah. Kami punya punya sejarah Joko Linglung dan Bajil Putih,” terangnya.

Memiliki banyak temuan fosil, Taufik mengaku merasa memiliki tanggungjawab membuat tempat untuk menyimpan benda temuan tersebut. Taufik kemudian membangun Museum Banjarejo pada tahun 2020, bekerja sama dengan Museum Geologi Bandung untuk bagian penataannya.

Sebelum membangun Museum Banjarejo, pihaknya lebih dulu membangun patung Ganesha Tidur pada tahun 2017. Patung tersebut disebut Taufik sebagai ikon desa. Dipilihnya bentuk ganesha karena di desanya itu banyak ditemukan fosil gajah.

“Dulu patung ini baru dicat saja sudah viral,” bebernya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini