31 C
Kudus
Minggu, Desember 4, 2022
BerandaBUDAYAJenang Alot, Jajanan...

Jenang Alot, Jajanan yang Hanya Ada Saat Sekaten di Solo

BETANEWS.ID, SOLO – Bunyi gamelan yang terdengar ritmis dari dalam Masjid Agung Solo menemani beberapa pedagang jenang alot yang dikerubungi pembeli di halaman masjid. Kudapan yang jadi salah satu kuliner khas Sekaten itu memang jadi buruan banyak orang.

Mayoritas pedagang jenang alot itu sudah sejak dulu berjualah saat Sekaten, bahkan sudah ada yang turun temurun. Salah satunya adalah Surati (65) yang telah mencari rezeki saat Sekaten sejak 30 tahun lalu.

“Dari Mbah-Mbah saya dulu jualannya, ya kayak gini. Terus saya, ya turunan dari bapak dari embah,” ujar wanita asal Magelang itu, Selasa (4/10/2022).

- Ads Banner -

Baca juga: Tradisi Nginang saat Sekaten di Solo, Diyakini Bisa Buat Awet Muda

Surati mengatakan, pada Sekaten kali ini ia membawa lima masakan jenang alot yang sebelumnya sudah dimasak dari Magelang. Adapun dalam satu kali masak jenang alot, ia membutuhkan setidaknya dua kuintal beras ketan.

“Pembuatannya satu hari satu malam, satu masakan. Setiap masakan dua kuintal, masaknya pakai kayu. Biasanya dibantu dua orang, gantian satu hari satu malam,” beber Surati.

Dirinya menjelaskan, jenang Sekaten memiliki beberapa perbedaan dengan jenang atau dodol yang biasanya dihidangkan di acara hajatan masyarakat Jawa. Perbedaan tersebut terletak di irisan daging kelapa muda yang dimasukkan ke dalam adonan jenang pada saat dimasak.

Surati mengaku tidak tahu soal sejarah jenang alot selalu dijual pada acara Sekaten. Namun, ia menceritakan bahwa sejak dulu setelah masyarakat menginang pada saat gamelan Sekaten dibunyikan, setelah itu mereka biasanya membeli jenang alot sebagai kudapan.

“Kalau ini kan ada kelapanya, kalau di tempat orang punya hajat enggak ada kelapanya. Ini dipotong-potong saja kelapa mudanya. Iya, ceritanya kalau habis nonton gamelan belinya jenang sama kinang,” ungkapnya.

Baca juga: Sepasang Gamelan Sekaten Solo Dibunyikan, Warga Berebut Janur dan Nginang

Adapun jenang alot saat ini dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu, tergantung dengan ukuran yang diminta oleh pembeli.

Selama ia berjualan, Surati mengungkapkan bahwa kini mayoritas pembelinya didominasi pengunjung-pengunjung lawas. Ia mengatakan, perlahan masyarakat yang tertarik membeli kudapan tersebut kian menurun. Kendati demikian, masih ada juga kalangan anak muda yang penasaran dengan dagangan yang ia jajakan.

“Ya kayaknya gimana ya orangnya pada susah beli, makin sedikit. Kebanyakan orang tua yang beli, anak muda juga ada,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler