Sepasang Gamelan Sekaten Solo Dibunyikan, Warga Berebut Janur dan Nginang

BETANEWS.ID, SOLO –Dua set gamelan dibawa dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju ke Masjid Agung siang itu. Gamelan kemudian diletakkan di dua buah bangsal di halaman masjid, yakni Bangsal Pradangga atau Pagongan Masjid Agung Solo.

Dari pihak Keraton Solo, kemudian menyerahkan gamelan tersebut kepada takmir masjid. Selanjutnya, setelah dapat perintah, pihak masjid kemudian akan memainkan atau menabuh gamelan itu.

Hal tersebut, merupakan bagian dari tradisi Sekaten yang merupakan peringatan Maulud Nabi Muhammad di Kota Solo. Dimulainya Sekaten, ditandai dengan ditabuhnya gamelan Kiai Guntur Madu dan dilanjutkan tabuhan gamelan Kiai Guntur Sari pada Sabtu (1/10/2022).

-Advertisement-
Warga berebut janur. Foto: Khalim Mahfur.

Baca juga: Ikut Kirab Pusaka Pura Mangkunegaran, Ganjar Merasa Keraton Jadi Lebih Dekat dengan Masyarakat

Gamelan akan dimainkan selama tujuh hari, mulai dari tanggal 5 sampai dengan 12 Rabiul Akhir 1444 H.

Sekaten, merupakan istilah bahasa Jawa yang merupakan serapan dari Bahasa Arab, yakni “Syahadatain” yang bermakna dua kalimat syahadat.

Kepala Takmir Masjid Agung Surakarta Muhtarom menerangkan, dua gamelan tersebut melambangkan bahwa di dunia ini segala hal diciptakan secara berpasang-pasangan.

“Ini melambangkan bahwa Allah menjadikan ini sepasang sepasang, artinya laki-laki dan perempuan, malam dan siang kemudian sakit dan sehat dan seterusnya. Itu jadi ini melambangkan hidup ini tidak bisa lepas dari dua sisi tersebut,” paparnya, Sabtu (1/10/2022).

Kedua gamelan tersebut dipukul tidak secara bersamaan, melainkan secara bergantian.

“Ini memberikan pemahaman kepada kita mengandung makna bahwa hidup ini harus tepo seliro. Kalau dalam musyawarah misalnya, ya harus berbicara ya harus diam. Didengarkan, kemudian ketika sudah selesai baru berbicara,” tuturnya.

Saat gamelan tersebut dimainkan, masyarakat juga berebut untuk mendapatkan janur yang sudah dipasang di langit-langit bangsal. Janur tersebut melambangkan, agar yang mendapat janur itu mendapat hidayah atau petunjuk dari Sang Maha Kuasa.

Janur merupakan simbol bahwa manusia hidup tidak bisa lepas dari hidayah. Menurutnya, selama masih hidup, manusia harus terus mencari petunjuk untuk menyempurnakan imannya kepada Tuhan.

“Maka ,hidayah atau petunjuk harus kita cari terus sampai akhir hayat kita. Janur itu mempunyai ibarat sebagai petunjuk dari bahasa Arab, Ja’a dan Nur yang berarti telah datang sebuah cahaya Allah, maka kita harus mencari terus. Maka berebut (janur),” terangnya.

Karena gamelan dipukul secara bergantian, maka masyarakat juga akan berpindah dari Bangsal Barat yang merupakan tempat Gamelan Kiai Guntur Madu menuju ke Bangsal Timur yang merupakan tempat Gamelan Kiai Guntur Sari.

Untuk itu, masyarakat akan berlari dari barat ke timur layaknya Sa’i dalam rangkaian ibadah Haji dari Bukit Safa menuju ke Bukit Marwah.

“Artinya Sa’i hidup ini harus dinamis, hidup ini harus produktif. Sa’i itu usaha orang mau berhasil harus bergerak, itu berat, usaha. Jangan sampai kita ini hidup statis,” katanya.

Saat gamelan pertama kali dipukul, masyarakat yang berkumpul juga sudah siap dengan inang yang mereka bawa. Konon katanya, menginang saat gamelan ditabuh, akan membuat awet muda.

Inang sendiri terdiri dari lima bahan yang melambangkan Rukun Islam yang berjumllah lima yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat muslim.

Baca juga: Kirab Selikuran, Tradisi Keraton Solo Menyambut Malam Lailatul Qadar

“Nginang itu memiliki simbol makna, yaitu memiliki 5 unsur, yaitu daun sirih, kemudian gambir, njet, kemudian tembakau atau susur dan yang terakhir adalah kembang kantil. Ini melambangkan ke Islam, artinya petunjuk ini harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang Islam harus menjalankan 5 rukun Islam,” paparnya.

“Ya nanti kalau hari-hari biasa itu pagi, biasanya jam 10.00 sampai dengan menjelang Dzuhur. Pokoknya salat lima waktu itu istirahat, kemudian setelah salat Dzuhur itu dipukul lagi sampai Asar. Ashar kemudian istirahat lagi sampai Maghrib. Kecuali Maghrib istirahat sampai dengan Isya, baru ba’da Isya baru ditabuh lagi sampai dengan tengah malam,” katanya.

Adapun acara puncak dari perayaan upacara Sekaten ini, yaitu tanggal 12 Rabiul Akhir. Acara ditutup dengan Grebeg Maulud yang merupakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER