31 C
Kudus
Rabu, November 30, 2022
BerandaBUDAYATradisi Nginang saat...

Tradisi Nginang saat Sekaten di Solo, Diyakini Bisa Buat Awet Muda

BETANEWS.ID, SOLO – Beberapa penjual kinang berada di halaman Masjid Agung Surakarta. Pembeli juga silih berganti membeli kinang tersebut.

Kinang, merupakan salah satu hal yang ada dalam perayaan Sekaten. Tradisi tersebut dilakukan ketika sepasang gamelan sekaten ditabuh.

Kinang sendiri terdiri dari beberapa bahan. Di antaranya daun sirih, tembakau kering, gambir, kapur sirih, dan juga bunga kantil.

Beberapa bahan yang digunakan untuk nginang. Foto: Khalim Mahfur.
- Ads Banner -

Baca juga: Sepasang Gamelan Sekaten Solo Dibunyikan, Warga Berebut Janur dan Nginang

Beberapa bahan tersebut, kecuali bunga kantil diramu menjadi satu dan dibuat susur atau dikunyah hingga berwarna merah. Setelah itu, kinang tersebut diratakan ke seluruh bagian gigi.

Tradisi menginang saat Sekaten sudah dilakukan sejak dulu. Prosesi nginang juga dilakukan tepat saat gamelan Sekaten pertama kali dibunyikan.

Saat pertama kali gamelan dibunyikan, masyarakat yang sudah beada di sekitar langsung menginang. Konon katanya, dengan hal itu bisa membuat siapa yang melakukannya awet muda.

Sedangkan, bunga kantil disematkan pada rambut siapapun yang menginang. Hal itu diutarakan oleh salah seorang pedagang kinang, Suginem (73).

Ia menerangkan, tradisi nginang saat gamelan Sekaten dibunyikan, diyakini dapat mendatangkan berkah kepada siapapun yang melakukannya. Selain itu, diyakini nginang juga membuat awet muda.

“Kalau inang bikin awet muda, sehat, di gigi juga awet,” ujarnya, Sabtu (1/10/2022).

Sensasi saat nginang membuat mulut terasa getir, namun saat sudah terkunyah sempurna, rasa getir itu sudah tidak terlalu terasa. Bahkan, menurut Suginem, ludah yang sudah tercampur lebih bagus saat ditelan.

“Ini kan sudah dikasih gambir dan njet, suruh (daun sirih). Ini digigit nanti kalau bisa ludahnya di telan,” katanya.

Tradisi nginang saat Sekaten juga hanya dilakukan pada saat tanggal 5 sampai dengan 12 Rabiul Akhir. Begitu pula Suginem juga berjualan dalam waktu sepekan itu. Ia berjualan mulai siang hari, sampai dengan awkitar pukul 20.00 WIB.

Dirinya sudah berjualan kinang sudah sejak puluhan tahun yang lalu. Sebelum diberikan ke pelanggan, kinang tersebut ia bacakan doa terlebih dahulu dan dikhususkan kepada siapapun yang membelinya.

Tak hanya kinang, yang sarat ada saat Sekaten adalah telur asin. Suginem juga mengatakan bahwa dengan memakan telur asin dapat membawa berkah tersendiri bagi yang mengonsumsinya saat Sekaten.


Baca juga: Ikut Kirab Pusaka Pura Mangkunegaran, Ganjar Merasa Keraton Jadi Lebih Dekat dengan Masyarakat

“Itu dulunya kalau di Sekaten harus nginang sama beli telur asin. Harganya kalau kinang Rp 2.000, kalau telur asin Rp 3.000,” ujarnya.

Salah satu warga yang hadir, Kastini (60) mengaku sudah setiap tahun selalu datang ke Sekaten setiap tahunnya. Ia juga rutin membeli kinang dan juga telur asin saat momen itu.

“Menurut mbah saya dulunya kalau menginang itu biar awet muda, giginya biar kuat nggak gampang rapuh. Jadi tiap tahun saya ke sini, pasti saat bunyi gamelan itu pertama nanti nginang,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler