31 C
Kudus
Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaKISAHCerita Owner Wingko...

Cerita Owner Wingko Babat Pak Lis, Awalnya Hanya Berjualan Keliling dengan Sepeda

BETANEWS.ID, SEMARANG – Di dalam sebuah rumah produksi wingko babat yang berlokasi di Jalan Satria, Semarang Utara, Semarang, terlihat para pekerja sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang sedang mencetak wingko, mengoven wingko, hingga membungkus wingko babat ke dalam kemasan.

Suliman, Owner Wingko Babat Pak Lis menyebut, ia sudah menekuni usaha makanan khas Kota Atlas ini sejak tahun 2000. Bermula dari dirinya yang menjadi pedagang wingko pada tahun 1973, Lis sapaan akrabnya pun akhirnya mencoba peruntungan dengan membuka rumah produksi sendiri.

Wingko Babat Pak Lis yang selesai dioven. Foto: Kartika Wulandari.

Baca juga: Keluar Kerja Demi Dampingi Anak, Nia Rintis Wingko Menoro yang Kini Ramai Pembeli

- Ads Banner -

“Dulu awalnya saya jualin punya orang, itu tahun 1973. Saya dagang wingko keliling naik sepeda, kemudian karena semakin ramai, akhirnya tahun 2000 saya memutuskan untuk mencoba produksi sendiri secara kecil-kecilan,” akunya.

“Waktu pertama buat juga berbekal dari waktu dulu ambil wingko saya suka lihat gimana caranya. Tapi saya gak tanya resepnya, jadi saya lihat dan saya coba buat sendiri,” tambahnya.

Lis melanjutkan, adapun kelebihan wingko babat buatanya sehingga bisa bisa bertahan hingga sekarang, yakni dengan menggunakan bahan-bahan berkualitas serta cara yang masih tradisional.

“Yang membuat masih bertahan dan banyak peminatnya karena saya masih menggunakan cara tradisional, baik untuk mengaduk adonan, mencetak, dan mengoven. Dulu pernah coba pakai mesin, tapi terlalu lembek hasilnya, jadi ya sudah saya menggunakan cara kuno lagi,” katanya.

“Selain itu, saya juga pakai bahan berkualitas. Pakai gula asli tanpa pemanis buatan, terus pakai kelapa parut segar, saya pakai kelapa yang setengah tua. Terus tepung ketan asli bukan tepung ketan yang ada campurannya,” jelasnya.

Tak hanya mengandalkan proses yang masih tradisional dan menggunakan bahan berkualitas, Lis juga mempunyai varian rasa agar semakin bervariatif. Antaranya ada rasa original, coklat, durian, dan nangka.

“Harganya per kantong yang original Rp 15 ribu isi 20, kalau yang 4 varian Rp 25 ribu isi 20,” katanya.

Kemudian untuk proses produksinya, Lis biasanya sehari memproduksi dua kali, yaitu pukul 08.00 WIB dan 13.00 WIB.

Baca juga: Wingko Menoro yang Dijual Anget-Anget Ini Tawarkan Sensasi Lembut Sejak Gigitan Pertama

“Produksi seringnya sehari dua kali, pagi sama siang. Untuk proses buatnya itu dari kelapa datang sampai matang bisa membutuhkan hingga 2 jam,” jelasnya.

Selanjutnya untuk penjualannya, Lis lebih memilih untuk mendistirbusikan ke beberapa toko oleh-oleh yang ada di Semarang.

“Kalau jumlah produksi tidak menentu, tergantung pemesanan, jadi kita sistemnya buat langsung kirim,” katanya.

Editor: Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler