31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Besok Ada 14 Gunungan yang Dikirab Dalam Upacara Tradisi Meron di Sukolilo

BETANEWS.ID, PATI – Meron, yang merupakan tradisi perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang masih dilestarikan oleh warga Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati hingga saat ini. Acara ini, biasanya ditandai dengan arak-arakan rengginang yang disusun menjulang ke atas setinggi 3 meter atau disebut gunungan.

Pada tahun ini, sebanyak 14 gunungan akan dikirab pada rangkaian acara yang bakal berlangsung Minggu (9/10/2022) besok.

Ketua Panitia Meron Shoban Rohman mengatakan, dari total gunungan yang ada tersebut, menyesuaikan dengan jumlah perangkat Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Saat ini, jumlah perangkat desa termasuk Kepala Desa Sukolilo berjumlah 14 orang.

-Advertisement-
Karnaval yang digelar dalam rangka memeriahkan Meron yang digelar pada Sabtu (8/10/2022). Foto: Kaerul Umam.

Baca juga: Karnaval Budaya Meriahkan Tradisi Meron di Sukolilo Pati

“Jadi untuk total gunungan dalam tradisi Meron ini menyesuaikan dengan jumlah perangkat desa yang aktif. Di tahun 2019 lalu, dalam perayaan tradisi Meron ada 11 gunungan, karena pada saat itu perangkat desa berjumlah 11 orang,” tuturnya di Gedung Haji Kecamatan Sukolilo, Pati.

Sebagai informasi, untuk gunungan yang dikirab pada tradisi Meron tersebut, ada tiga jenis makanan tradisional yang di dalamnya. Ada ampyang, once, dan cucur. Kemudian makanan tersebut dirangkai menjadi sebuah gunungan dengan tinggi sekitar 3 sampai 4 meter.

“Untuk rangkaian gunungannya, urutan paling bawah ada ambengan, kemudian ampyang, lalu once, di atasnya lagi ada cucur, dan terakhir ada replikasi masjid dan jagung. Paling atas itu bisa dikreasikan, tapi untuk ampyang, once, dan cucurnya tidak boleh salah,” terangnya.

Ia menambahkan, sejarah tradisi Meron yang dipercaya warga ada keberkahan di dalamnnya itu sudah berlangsung sejak lama. Menurutnya, tradisi tersebut ada, ketika salah seorang warga asli dari desa tersebut yang bernama Suro Kadam termasuk sebagai Tumenggung Kerajaan Mataram mengunjungi ke tempat ia berasal.

Lantaran warga saking senangnya ada seorang di desanya yang menjadi tumenggung di Kerajaan Mataram, warga pun bersuka cita akan kehadirannya. Tak hanya rasa senang, warga pun merelakan hasil panennya diberikan kepada Suro Kadam, walaupun para warga juga butuh.

“Karena di Solo ada tradisi Sekaten, kemudian di sini ada tradisi Meron,” katanya.

Baca juga: Karnaval Jarwana, Simbol Kerukunan Etnis Banjar, Jawa, dan Cina di Kampung Jayengan

Istilah Meron merupakan akronim dua kata dari bahasa Jawa yaitu me (rame) dan ron (tiron) yang berarti ramai meniru. Menurutnya, kalau di Solo ada tradisi Sekaten, dan di Sukolilo ada Meron.

“Karena pada saat itu Mbah Suro Kadam ketika berkunjung di sini bertepatan di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut dengan perayaan Maulid Nabi. Di Solo sudah terlebih dulu ada tradisi Sekaten, kemudian di sini meniru tradisi Sekaten dengan nama Meron,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER