31 C
Kudus
Minggu, Februari 15, 2026

Masih Langka, Dewan Minta Pemkab Lakukan Pendataan Pengguna Elpiji 3 Kg

BETANEWS.ID, KUDUS – Kurang lebih sebulan terakhir liquefied petroleum gas (LPG) tiga kilogram di Kabupaten Kudus langka. Warga kesulitan untuk mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Bahkan ada warga yang harus menumpang di tempat tetangga hanya untuk memasak karena tak mendapatkan elpiji tiga kilogram.

Hal tersebut diungkap oleh anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus Achmad Yusuf Roni. Oleh karenanya, ia meminta keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus untuk mengurai permasalahan tersebut.

Baca juga: Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi Disebut Jadi Biang Langkanya Gas Melon di Kudus

-Advertisement-

Jangan sampai masyarakat yang sudah menderita karena harga bahan bakar minyak (BBM) naik juga dibebani lagi dengan gas subsidi yang langka. Jika pun ada, harganya lebih mahal dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan oleh Pertamina.

“Iya ini banyak masyarakat yang mengeluh, karena susah mendapatkan elpiji tiga kilogram. Kalau pun ada harganya mahal, Pemkab Kudus harus mengurai permasalahan ini,” ujar Yusuf Roni kepada Betanews.id, beberapa waktu lalu.

Dia mendorong agar Pemkab Kudus melalui Dinas Perdagangan serta Pemerintah Desa (Pemdes) untuk mendata secara benar pengguna elpiji tiga kilogram. Sehingga kriteria pengguna gas melon di Kudus terdata dengan jelas.

“Dengan begitu, nanti terlihat pengguna elpiji tiga kilogram di Kudus itu ada berapa sesuai kriterianya. Serta nanti data tersebut dibandingkan dengan kuota suplai elpiji dari Pertamina ke Kudus tiap harinya,” ungkapnya.

Jika kuota suplai sudah mencukupi, kata dia, berarti harus ada pengawasan dalam distribusi elpiji tiga kilogram ke Kudus sehingga tepat sasaran. Namun, jika belum Pemkab Kudus bisa minta tambahan kuota distribusi gas melon ke Pertamina.

“Sebab, infonya kuota elpiji tiga kilogram untuk Kudus itu mengalami peningkatan. Namun, nyatanya masyarakat masih kesusahan mendapatkan gas bersubsidi tersebut,” tandasnya.

Dia mengatakan, sering menerima keluhan warga yang kesusahan mendapatkan elpiji tiga kilogram. Namun, ia juga pernah melihat ada orang menggunakan mobil bak terbuka keliling menjual LPG tiga kilogram, tapi dengan harga yang lebih mahal dari HET.

“Sehingga masyarakat yang butuh terpaksa harus beli meski dengan harga yang lebih mahal,” ungkapnya.

Baca juga: Gas Melon Mulai Langka, Warga: ‘Harganya Naik Sedikit Nggak Apa-apa, Tapi Barangnya Ada’

Dia menduga, distribusi gas bersubsidi salah sasaran. Sehingga muncul modus-modus kelangkaan. Namun, ada satu dua orang yang masih punya stok elpiji tiga kilogram menjualnya dengan harga tinggi.

“Jadi distribusinya harus benar-benar dipantau. Mulai dari distributor, pangkalan, hingga ke tingkat pengecer,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER