BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa hari terakhir, warga di Kabupaten Kudus mengalami kesulitan untuk mendapatkan gas LPG 3 kilogram atau gas melon. Bahkan, ada warga yang sampai keliling ke bebarapa toko untuk bisa mendapatkan LPG bersubsidi tersebut.
Satu di antaranya yakni Ipang Saputra. Pria yang kesehariannya berjualan cilok di Jalan Menur belakang SMP 2 Kudus itu mengaku, sepekan terakhir kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram. Apalagi saat toko langganannya kosong, ia pun harus keliling ke beberapa toko agar bisa mendapatkan gas LPG.
“Sejak sepekan lalu, hingga sekarang LPG 3 kilogram di Kudus bisa dibilang langka. Susah carinya, saya pernah berkeliling ke empat toko hanya untuk mendapatkan gas bersubsidi tersebut,” ujar pria yang akrab disapa Ipang kepada Betanews.id, Selasa (6/9/2022).

Baca juga: Distribusi Kurang Merata Jadi Sebab Gas Elpiji di Kudus Langka
Bahkan, ia pernah harus libur berjualan karena tak bisa mendapatkan gas LPG bersubsidi tersebut. Sebab, usahanya itu berkaitan dengan gas elpiji. Saat gagal mendapatkan gas tersebut, maka ia pun harus libur berjualan.
“Pernah sampai libur berjualan karena gak dapat gas, tepatnya Selasa pekan lalu. Padahal di hari itu sudah berkeliling ke beberapa toko, tapi kosong semua,” ungkap pria yang sudah berjualan Cilok selama tiga tahun tersebut.
Tak hanya langka kata dia, harga LPG 3 kilogram juga tak menentu. Bahkan, ia pernah membelinya dengan harga Rp 25 ribu, padahal harga biasanya itu antara Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu.
“Selain langka, harga elpiji tiga kilogram itu tak stabil. Pernah saya membeli dengan harga cukup mahal Rp 25 ribu. Karena butuh jadi tetap saya beli. Yang penting ada barangnya dan tidak langka,” bebernya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh warga Kudus lain yakni Edy Wardoyo. Pria yang berjualan Jasuke itu juga mengaku kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi. Hal itu sudah dialaminya sejak 10 hari yang lalu.
“Sudah 10 hari terakhir saya kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram. Dengan langkanya gas melon, otomatis menyulitkan kami, pedagang kecil,” ujar Edy.
Tak hanya langka, harga LPG 3 kilogram juga mengalami kenaikan. Ia mengaku membeli LPG dengan tabung warna hijau tersebut dengan harga Rp 23 ribu sampai Rp 25 ribu per tabung.
“Padahal harga normalnya itu antara Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu. Sejak langka, harga LPG tiga kilogram jadi mahal,” ungkapnya.
Disinggung apakah ini ada kemungkinan permainan dari pemerintah yang akan menaikkan harga LPG bersubsidi, ia pun mengira hal itu benar. Menurutnya, semua bisa saja terjadi, termasuk langkanya LPG 3 kilogram ini sebagai upaya pemerintah untuk menaikan harga gas melon.
Baca juga: Gas Elpiji Langka, Hartopo Ancam Tutup Pangkalan yang Naikkan Harga
“Bisa jadi ini memang trik pemerintah untuk mengecek pasar dan nantinya harga LPG 3 kilogram naik,” tandasnya.
Meski begitu, Edy setuju jika harga elpiji bersubsidi akan dinaikkan. Asal jangan terlalu mahal dan yang terpenting barangnya tersedia dan tidak langka.
“Tidak masalah jika harga gas elpiji tiga kilogram naik. Tapi jangan terlalu mahal dan yang terpenting itu barangnya jangan langka. Agar kami para pedagang masih tetap bisa berjualan,” harapnya.
Editor : Kholistiono

