Berbeda dengan Arif yang tak bisa berjalan sejak berusia belasan tahun, Anik tak bisa berjalan sejak usia 1,5 tahun. Saat itu Anik terjatuh dan akhirnya kakinya tak bisa digerakkan. Berbagai upaya orang tua Anik telah dilakukan, namun takdir menentukan Anik menjadi difabel.
Kondisi itu membuat ibu Anik semakin protektif kepadanya, hingga Anik tidak diizinkan kelur rumah karena khawatir dihina orang. Anik akhirnya hanya belajar sendiri di rumah, diajari ibunya membaca dan menulis.
“Selain itu juga tidak ada biaya. Ibu membelikan saya buku. Saya diajari membaca dan menulis. Saat nonton teve, kalau ada yang tidak saya ketahui, saya kemudian tanya ke ibu,” katanya.
Setelah kejadian itu, Anik mengaku baru keluar rumah untuk pertama kalinya saat ada pertemuan difabel di Teluk Awur, Jepara. Meski sempat tidak mendapat izin dari ibunya, akhirnya diperbolehkan dengan syarat ibunya juga ikut menemani.
“Saat itu ibu juga ikut dipertemua. Di sana emak sadar bahwa yang difabel tidak hanya saya. Setelah itu saya diperbolehkan ke mana-mana, tidak lagi takut kalau saya nanti di luar dihina orang,” tutur Anik.




