31 C
Kudus
Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
spot_img
BerandaSejarahMonumen Macan Putih,...

Monumen Macan Putih, Napak Tilas Pejuang Kemerdekaan di Lereng Muria

BETANEWS.ID, KUDUS – Di Desa Glagah Kulon, Kacamatan Dawe, Kabupaten Kudus terdapat sebuah monumen simbol perjuangan tentara melawan penjajah. Nama monumen tersebut adalah Markas Komando Daerah Muria.

Monumen tersebut berada di tengah perkampungan padat penduduk dengan lahan seluas 273 meter persegi. Monumen itu punya lebar sekitar 6 meter dan tinggi 2,5 meter. Sedangkan ketebalan monumen sekitar 0,6 meter.

Di bangunan tersebut terdapat relief kepala macan putih dan tentara yang sedang bertempur dengan menggunakan berbagai senjata, seperti bambu runcing dan pedang. Di bagian kiri monumen terdapat relief warga yang memberikan kelapa untuk diminum dan makanan kepada para pejuang. Sedangkan di bagian kanannya terlihat area pegunungan dengan berbagai pepohonan.

- Ads Banner -

Baca juga: Sejarah Kiai Telingsing, Ulama Tionghoa Penyebar Agama Islam di Kudus

Juru Pelihara (Jupel) Monumen Markas Komando Daerah Muria Sipat (70) mengatakan, bangunan tersebut didirikan pada 1972, sebagai simbol dan pengingat bahwa di tempat tersebut dulunya adalah markas tentara saat melawan Belanda di Lereng Muria.

Di tempat bernama lain Monumen Macan Putih itu lah, para pejuang mempertahankan wilayah dari serangan Belanda pada agresi militer 1 pada 1947.

“Pada 1947 Belanda kembali menyerang ke berbagai wilayah Indonesia, tak terkecuali di wilayah Lereng Muria meliputi Pati, Kudus, dan Jepara,” bebernya, Sabtu (6/8/2022).

Penyerangan Belanda di Lereng Muria itu tak berjalan mulus karena mendapatkan perlawanan sengit dari para pejuang di bawah pimpinan Mayor Kusmanto.

Baca juga: Sejarah Masjid Langgardalem: Dibangun Sunan Kudus, tapi Tak Digunakan untuk Salat Jumat

“Setiap Belanda mau menyerang Markas Komando Daerah Muria, pasukan Indoesia pasti tahu terlebih dulu dan mencegatnya di perbukitan di luar jauh dari markas. Sehingga Belanda pun sering kalah,” terang pria yang tinggal tak jauh dari monumen tersebut.

Hingga akhirnya, kata dia, pada tahun 1949 Belanda benar-benar menyerah dan mengakui Kemerdekaan Indonesia. Untuk mengenang hal itu, maka dibangunlah sebuah Monumen Markas Komando Daerah Muria yang masih ada hingga sekarang.

“Monumennya masih bagus. Selalu saya rawat, terakhir pengecatan itu pada 2015, tapi masih bagus,” tukas Sipat.

Editor: Ahmad Muhlisin

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,327PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler