BETANEWS.ID, KUDUS – Siapa mengira rumah yang dipenuhi tanaman rambat itu, merupakan pusat kerajinan. Saat masuk ke dalam, para tamu akan disuguhi berbagai macam kaligrafi ukir yang terpajang dengan rapi di beberapa sisi dinding. Rumah itu adalah Galeri Mahkota Hati milik pasangan suami istri Zaenal Arifin (56) dan Arofah Muthmainnah (46).
Arifin mengatakan, selain mencari cuan, usaha kaligrafi ukir berbahan limbah kayu itu juga dijadikannya untuk media berdakwah. Menurutnya, dalam menyiarkan agama Islam dapat dilakukan dalam bentuk kesenian, salah satunya kaligrafi ukir.

“Kan itu media dakwah, walaupun sedikit dari Rasulullah. Orang dakwah kan lain-lain ya bentuknya, selain itu juga untuk nafkah keluarga,” kata Warga Kelurahan Mlati Norowito Gang 4, Kecamatan/Kabupaten Kudus itu, Rabu (27/7/2022).
Baca juga: Kaligrafi Ukir dari Limbah Kayu Karya Arifin Sudah Tembus Pasar Malaysia
Memulai bekerja sebagai seniman kaligrafi ukir sejak 1990, Arifin dulu bahkan tidak mengira akan menggeluti bidang kesenian. Saat itu, ia mengaji pada Kiai Haji Afnan Shaleh di Purwosari. Melihat sang guru dan terkadang menyuruh Arifin melakukan aktivitas kerajinan, membuatnya lihai dan menekuninya hingga sekarang.
Di tempatnya, Arifin menyediakan berbagai kaligrafi dengan tulisan ayat kursi, selawat futuhat, al-Fatihah, an-Nas, al-Falaq, dan kata-kata mutiara.
“Kayunya biasanya pakai kayu jati, mahoni, pohon nangka, pohon jambu, pohon kelapa, pohon mangga, macam-macam bisa,” terangnya.
Ukir kaligrafi yang dijual seharga Rp50 ribu hingga Rp 3 juta ini, mampu bertahan hingga bertahun-tahun. Arifin menjelaskan, ukir kaligrafi jika terjatuh masih bisa diperbaiki, berbeda dengan kaligrafi yang menggunakan media pigura.
Baca juga: Kisah Huda Cari Rezeki dari Kaligrafi, Pernah Terlilit Utang hingga Tak Dibayar Pemesan
“Untuk media kayu itu bisa tahunan, seratus tahun bisa. Kalau kaligrafi kaca kan pas jatuh jadi rusak. Sedangkan ini meskipun jatuh tidak sampai rusak dan bisa diperbaiki lagi,” jelasnya.
Pelanggan Arifin tidak hanya dari Kudus saja, beberapa tempat seperti Semarang, Jakarta, dan Surabaya juga tertarik dengan ukir kaligrafi. Tidak hanya itu, Arifin bahkan mengaku pernah mendapatkan pembeli dari Malaysia.
Editor: Ahmad Muhlisin

