BETANEWS.ID, SOLO – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia akan kembali menyetop ekspor sumber daya alam. Jika sebelumnya nikel mentah, pemerintah akan memberlakukannya pada bauksit dan timah.
Bahlil mengatakan,untuk penyetopan ekspor bauksit akan dilakukan tahun ini, kemudian tahun berikutnya timah.
“Penghasil timah terbesar di dunia itu China, nomor dua adalah Indonesia. Tapi untuk ekspor timah terbesar di dunia itu Indonesia,” kata dia usai menghadiri Forum Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG) G20 di Hotel Alila Solo, Rabu (6/7/2022).
Baca juga: Ini 4 Agenda Utama Forum TIIWG G20 di Solo
Dengan penyetopan ini, pemerintah akan berupaya melakukan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dimiliki.
“Ini sejalan dengan visi besar Bapak Presiden tentang transformasi ekonomi. Begitu kita melakukan hilirisasi, nikel kita, kitakan dibawa ke WTO (Worl Trade Organization) oleh beberapa negara lain,” kata dia.
Bahlil menambahkan, hilirisasi yang dilakukan di Indonesia tidak lebih dari 5 persen. Dengan hilirisasi juga, menurutnya bisa menjaga lingkungan lantaran tidak adanya penambangan liar.
“Penambangan yang tidak bisa mengukur kapasitas volume produksi kita ini kan bahaya, jadi kita mengelola, kita melakukan penataan itu dalam rangka mendorong agar terwujudnya industri dan yang ramah lingkungan memakai energi yang terbaru dan terbarukan dan nilai tambahnya di kita,” tuturnya.
Dengan terwujudnya hilirisasi tersebut, menurut Bahlil, akan berefek pada penciptaan lapangan pekerjaan di Indonesia yang lebih maksimal.
Baca juga: Sambangi Pasar Peterongan Semarang, Presiden Jokowi Serahkan Bansos ke Warga
Selain beberapa komoditas diatas, Bahlil menyebut, ekspor listrik yang memakai Energi Terbaru dan Terbarukan (EBT) juga dilarang.
“Indonesia 2025, minimal 24 persen listriknya harus memakai EBT. Kita kan (saat ini) belum siap. Artinya kita kan belum cukup, ngapain kita ekspor. Silakan orang investasi di Indonesia, tetapi listriknya dipakai untuk Indonesia. Kalau orang membangun industri membangun di Indonesia jangan ambil bahan baku di Indonesia pembangunannya di tempat lain,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

