31 C
Kudus
Jumat, Agustus 12, 2022
spot_img
BerandaSejarahSejarah Kebo Bule...

Sejarah Kebo Bule Keraton Solo, Hewan Klangenan Pakubuwono II

BETANEWS.ID, SOLO – Ketika berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, di dekat Alun-alun Selatan akan disambut dengan kerbau berwarna merah muda. Masyarakat biasa memanggil kerbau tersebut dengan nama kebo bule.

Keberadaan kerbau-kerbau tersebut mampu menarik minat para wisatawan untuk berkunjung ke sana. Selain itu, kebo bule juga selalu diikutkan dalam kirab pusaka setiap perayaan Malam 1 Sura.

Diikutsertakannya kebo bule dalam upacara kirab pusaka Malam 1 Sura itu, ada kisah di baliknya. Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Susanto menerangkan, bahwa sejatinya kerbau sangat melekat dengan upacara adat masyarakat Jawa.

Kebo bule Keraton Solo yang akan diikutkan kirab pada malam 1 Sura. Foto: Khalim Mahfur.
- Ads Banner -

Baca juga : Lima Kebo Bule Keraton Solo Dikarantina Jelang Kirab 1 Sura, Sebelumya Ada 2 yang Mati Karena PMK

Susanto menjelaskan, khusus untuk malam 1 Sura, kebo bule dianggap dengan sesuatu yang dianggap unik dan biasa menjadi kesayangan atau disebut dengan istilah Klangenan. Leluhur kebo bule tersebut merupakan hewan kesayangan dari Pakubuwono ke II.

“Jadi zaman Pakubuwono II waktu masih di Kartasura, ia (kebo bule) menjadi kesenangannya,” jelas Susanto kepada Betanews.id, Rabu (27/7/2022).

Lantaran berbeda dengan kerbau pada umumnya, kebo bule itu diidentikkan dengan kekuatan gaib. Susanto menjelaskan, misalnya raja mempunyai orang-orang dengan sesuatu yang tidak biasa itu dianggap mempunyai kekuatan tersendiri yang disebut dengan Abdi Ndalem Palawija.

“Palawija itu kan macam-macam. Itu adalah satuan di dalam yang dianggap memberikan wibawa atau kekuatan gaib pada raja. Nah untuk sejarahnya, kebo bule itu yang ada kaitannya dengan keraton,” kata Kepala Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS itu.

Masyarakat sekitar biasa memanggil kebo bule tersebut dengan Kiai Slamet. Dilansir dari keraton.perpusnas.go.id, dalam buku Babad Solo karya RM Said, kebo bule dulunya merupakan hewan kesayangan Pakubuwono ke II

Di dalam artikel tersebut dituliskan, bahwa menurut leluhur kebo bule merupakan hadiah dari Kiai Hasan Beshari Tegalsari di Ponorogo yang diberikan kepada Pakubuwono ke II.

Pemberian tersebut dengan maksud agar kebo bule itu bisa digunakan sebagai pengawal pusaka keraton yang dinamakan Pusaka Kiai Slamet. Namun, sampai saat ini kerbau-kerbau yang ada di Alun-alun Selatan itu biasa dipanggil oleh masyarakat dengan nama Kiai Slamet.

Terlepas dari penamaan, Susanto mengatakan, bahwa menurutnya kata Slamet di bulan Sura menjadi suatu tradisi yang baik.

Baca juga: Melihat Kirab Boyong Kedhaton HUT ke-277 Kota Solo Setelah 2 Tahun Vakum

“Selamet itu menjadi satu tradisi yang baik, karena semua tradisi Jawa itu tidak ada yang membuat sial. Semua bisa diseimbangkan dengan cara selamatan atau ruwatan,” terangnya.

Lebih lanjut, Susanto menjelaskan, bahwa penggunaan kerbau dalam upacara adat Jawa merupakan hal yang umum dan menjadi tradisi.

“Kalau ikonik kebo bule itu sebenarya sudah biasa ya, jadi itu memang lambang binatang yang selalu dikaitkan dengan peringatan dan sesaji. Makanya ada penanaman kepala kerbau untuk pembangunan dan sebagainya. Misalnya Mahesa Lawung (pelarungan kepala kerbau),” kata dia.

Editor : Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,330PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler