BETANEWS.ID, SOLO – Kirab Boyong Kedhaton kembali dilaksanakan pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-277 Kota Solo, Kamis (17/2/2022). Meski jarak yang dilalui tidak sepanjang dulu, tapi kirab ini bisa digelar kembali setelah dua tahun vakum lantaran pandemi Covid-19.
Pelaksanaan Kirab Boyong Kedhaton ini juga tidak bisa dihadiri Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, karena mendampingi putrinya yang sedang dirawat di rumah sakit.

Kirab yang dilaksanakan sekitar pukul 15.30 WIB itu mengambil start dari halaman depan Benteng Vastenburg menuju halaman Balai Kota Solo dengan rute sepanjang 450 meter. Dalam kirab itu, peserta kirab dibatasi hanya 93 orang yang terdiri dari 37 penari, 30 volunteer, 10 Diajeng serta 16 prajurit muda.
Baca juga: Gibran Tak Hadir di Upacara HUT ke-277 Kota Solo
Sesampainya di balai Kota Solo, para peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok kemudian menampilkan berbagai tarian yang menceritakan tentang proses perpindahan tersebut.
Selain itu, ada pula prajurit Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat lengkap dengan senjata mengikuti kirab. Termasuk sembilan wanita yang masing-masing membawa tampah berisi berbagai jenis bubur. Selanjutnya, bubur itu dibagikan kepada para pejabat yang hadir pada acara.
Ditemui usai menyaksikan kirab, Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa mengatakan, event-event budaya sudah bisa dilaksanakan meski masih dalam masa pandemi. Kembali digelarnya event budaya tersebut dapat meningkatkan pariwisata di Solo lantaran Covid-19 yang sudah terkendali.
“Artinya yang sudah dirancang tetep kita lakukan, dalam rangka ulang tahun kota Solo. Pindahe keraton ini kan sejarah, pemerintahan dari Kartosuro ke Surakarta ini kan sejarah,” kata dia.
Meski jalur yang dilalui tidak sepanjang dulu, tapi menurut Teguh, kegiatan budaya seperti ini tetap bisa dilakukan. Terlebih saat ini banyak seniman muda yang bertalenta, tapi tetap memiliki pakem dari budaya yang sudah ada.
Baca juga: 17 Jenis Jenang Meriahkan Festival Jenang HUT ke-277 Kota Solo, Ini Maknanya
“Ya semuanya kan meng-create budaya itu kan ada sebagian sudah dimodernisasi, jadi tidak semuanya sesuai dengan zamannya. Ini (Kirab Boyong Kedhaton) sudah dimodifikasi sedemikian rupa karena memang seni budaya ini selalu berkembang, tapi pakemnya tetep mesti ada,” paparnya.
Meski diselenggarakan secara terbatas, namun menurut Teguh tidak mengurangi nilai yang terkandung dalam kirab yang menceritakan berdirinya Kota Solo itu.
“Harapannya ke depan kan mungkin kalau kita ini sedang tidak dalam situasi pandemi ini, kan sudah menjadi agenda Kota Surakarta,” tandas Teguh.
Editor: Ahmad Muhlisin

