BETANEWS.ID, KUDUS – Peternak sapi perah di Kudus mengalami dilema selama wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, meski ada wabah PMK, tapi permintaan susu sapi segar meningkat, sementara mereka tak bisa menambah sapi untuk meningkatkan produksi susu.
Hal itu diungkap oleh salah satu peternak sapi perah Kudus Zainal Abidin (50). Pemilik Peternakan Sumber Barokah dan produk susu Sumber Sehat itu mengatakan, permintaa susu sapi segar tak terdampak adanya wabah PMK. Bahkan, permintaan cenderung naik.
Baca juga : Dampak PMK, Produksi Susu Sapi di Kudus Anjlok
“Ini dilemanya, permintaan susu sapi naik. Sedangkan selama wabah PMK ini produksi susu kami turun karena tidak bisa tukar tambah dengan sapi yang sedang masa laktasi baru,” ujar pria yang akrab disapa Zainal kepada Betanews.id.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu mengaku memiliki 19 ekor sapi perah. Sebelum ada wabah PMK, produksi susunya bisa 200 liter per hari.
“Namun, sekarang produksi susu kami turun sekitar 15 persen. Tak lagi 200 liter tapi turun jadi 170 liter per hari,” bebernya.
Untuk harga, lanjutnya, masih sama tidak ada kenaikan atau penurunan. Masih Rp 20 ribu per liter. Susu sapi Sumber Sehat tersedia berbagai rasa original dan berbagai varian rasa lainnya.
“Selain susu original, kami juga memproduksi susu sapi dengan aneka rasa. Di antaranya, rasa cokelat, strawberi, apel dan lain sebagainya. Pemasaran, selain di Kudus juga ada permintaan dari Jepara,” ungkapnya.
Baca juga : Dianggap Percuma, Dispertan Kudus Tak Akan Suntikkan Vaksin PMK ke Hewan Kurban
Meski ada wabah PMK, Zainal bersyukur, sebab selama ini belasan sapinya belum ada yang terpapar. Namun, kendalanya ia tidak bisa tukar tambah sama sapi yang masa laktasinya baru. Sehingga produksi susunya turun.
“Mau tukar tambah sapi baru tidak berani saya. Takutnya malah nanti ada yang terkena PMK dan menulari sapi yang ada. Jadi ini ya menunggu wabah PMK hilang, baru nanti tukar tambah sapi baru. Saat ini harga sapi afkir juga anjlok,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

