31 C
Kudus
Jumat, Agustus 12, 2022
spot_img
BerandaSejarahMenelusuri Jejak Bus...

Menelusuri Jejak Bus Bumel yang Pernah Berjaya di Kota Semarang

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bus bumel merupakan sebutan yang disematkan untuk bus ekonomi yang tidak memiliki fasilitas mewah layaknya bus Patas yang ber-AC. Di Kota Semarang, jejak bus bumel saat ini semakin sulit ditemui.

Bumel merupakan akronim dari mlebu kumel, dalam bahasa Jawa yang berarti masuk kumal. Sebutan ini untuk menggambarkan bus kelas ekonomi yang tidak ber-AC, sehingga kerap menyajikan pemandangan penumpang yang kegerahan saat naik bus.

Bus legend yang sempat berjaya di Kota Semarang ini, dulunya menjadi favorit masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Yakni rentang waktu era 80 hingga 90-an. Apalagi, bus ini siap untuk berhenti di titik manapun yang dinginkan penumpang, tanpa harus di halte.

- Ads Banner -

Baca juga: Dari Hanya Punya 4 Armada, PO New Shantika Kini Jadi Pelopor Bus ‘Sultan’ di Eks Karesidenan Pati

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang Bambang Pranoto Purnomo menyebutkan, ada tiga jenis bus Bumel yang pernah jaya dan merajai di era 1990-an, yaitu Bus Umbul Mulyo, PT Semeru dan Shima.

“Saat era 80 sampai 90-an, ada tiga jenis bus yang sangat jaya. Pertama ada Umbul Mulyo, dulu pemilik usahanya bahkan punya sekitar 300-an. Kemudian yang kedua ada Semeru, ada beberapa treyek yang beroperasi dan dimiliki satu pengusaha. Terus yang terakhir ada Shima, ada dua trayek yaitu jutusan Genuk-Pudakpayung dan Mangkang- Pudakpayung,” ujarnya.

Selain itu ada juga beberapa bus yang dimiliki oleh gabungan para pengusaha yang mempunyai 2 sampai 3 bus dengan jalur yang sama.

Bambang bercerita, bus bumel merupakan transportasi yang digunakan penumpang untuk rute jarak dekat. Bus ini sering menampakkan pemandangan menaikturunkan penumpang per meter.

Secara tampilan fisik, bus bumel memiliki kondisi bodi yang lusuh dan tampak tidak terawat. Bus bumel biasanya punya konfigurasi jok 3 sampai 2. Sehingga, kapasitas penumpangnya lebih banyak.

Di masa jayanya, lanjut Bambang, para pengusaha bus bisa menghasilkan setoran Rp 300 ribu per hari. Tapi kemudian saat memasuki era 2000-an, beberapa PO Bus mulai banyak yang tidak beroperasi.

Baca juga: Agar Mudah Dikenali Fans Haryanto Mania, Setiap Bus Punya Julukan Khas

“Mulai tahun 2000, sudah banyak yang tidak beroperasi, terus tahun 2005 mati suri. Baru 2012 berlahan mulai beroperasi lagi. Kemudian sekarang 2022 trayek bus reguler Kota Semarang, baik Damri maupun swasta perorangan, sama sekali sudah tidak ada. Puncaknya kemarin 2020 pas pandemi,” jelasnya.

Ia pun menggambarkan, saat masanya, misal di jalur Mangkang-Plamongan, bahkan bisa dilalui sekitar 120 unit. Tapi sekarang, rute tersebut sudah dilalui oleh bus kota.

“Tapi itu di masa jayanya. Sekarang sudah dilayani oleh Trans-Semarang, bantuan kementerian itu, ada sekitar 24 bus besar,” kata dia.

Editor : Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,330PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler