BETANEWS.ID, KUDUS – Panas terik matahari tak menyulutkan semangat para pengatur jalan di proyek pembangunan di Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati. Mereka dengan sabar mengatur laju kendaraan dari dua arah secara bergantian agar perjalanan tetap lancar.
Sehari-hari, mereka memang menggantungkan hidupnya di tempat tersebut, lantaran ada yang kerjaannya terimbas proyek jalan itu. Salah satunya adalah Agus Supriyono yang bengkelnya terpaksa tutup.
Agus begitu ia akrab disapa bersedia berbagi kisah kepada betanews.id. Dia mengatakan, saat ada pembangunan jalan di desanya itu, ia yang biasa bekerja sebagai mekanik bengkel rumahan harus rela menutup bengkelnya dan pilih menjadi pengatur jalan untuk menafkahi keluarganya.
Baca juga: Dari Atur Kendaraan di Proyek Jalan Kudus-Purwodadi, Agus Bisa Bawa Pulang Rp150 Ribu Sehari
Pasalnya, rumah dan bengkelnya itu tertutup apembangunan jalan, sehingga mau tidak mau ia harus menutup bengkelnya sementara waktu.
“Untuk sementara saya harus menutup bengkel karena depan bengkel dan rumah saya ada pembangunan jalan. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari ya dengan menjadi pengatur jalan di sini supaya tidak terjadi kemacetan,” beber Agus, Jumat (22/7/2022).
Ia menjelaskan, sudah tiga pekan ia menjalani aktivitas pengaturan jalan tersebut. Dengan menjadi pengatur jalan, ia sering sekali mendapat hal yang tak mengenakan. Sebab, banyak pengendara khususnya pemotor tidak memiliki kesadaran dan tidak mau berhenti, agar pengendara dari arah berlawanan melintas.
“Sebenarnya banyak tidak enaknya menjadi pengatur jalan ini. Banyak pemotor yang menerobos dan tidak punya kesadaran. Pada intinya malah bikin emosi sendiri, sudah berdiri berjam-jam bahkan kepanasan,” jelasnya.
Meski begitu, ia sadar akan pekerjaannya. Sebab jika tidak ada yang mengatur pada jalur yang sedang ada pembangunan jalan, maka akan terjadi kemacetan.
Baca juga: Proyek Peninggian Jalan Kudus-Purwodadi Sebabkan Macet hingga 7 Kilometer
Ia menuturkan, dalam pekerjaannya itu ia bisa mengantongi uang antara Rp100 ribu sampai Rp150 ribu untuk kebutuhan sehari-harinya. Uang itu untuk menafkahi istri dan dua anaknya yang masih sekolah.
“Kalau nggak bekerja seperti ini bagaimana bisa menafkahi keluarga. Istri di rumah dan tidak bekerja. Biasanya kalu pendapatan itu tergantung yang memberi,” ujarnya.
Ia menambahkan, tidak semua pengendara itu memberi uang kepada pengatur jalan. Kebanyakan yang memberi adalah pengendara truk bermuatan. Sementara pemberian itu tidak hanya berupa uang saja, tapi ada juga yang memberi sebatang rokok, bahkan ring baut seolah-olah uang koin.
“Pernah itu ada orang yang memberikan ring baut. Kalau tidak mau memberi uang kan sudah, mending nggak usah,” keluhnya mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

