BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang terlihat sedang mengatur jalannya kendaraan di proyek peninggian jalan Kudus-Purwodadi di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Siang itu, mereka tampak membagi beberapa kendaraan yang akan melaju di sisi jalan yang sedang dibangun.
Di tangan mereka lah kelancaran pembagian arus lalu lintas berada. Makanya, tak jarang pengguna jalan memberikan selembar dua lembar uang receh kepada ‘pak ogah’ sebagai bentuk terima kasih.
Salah satu pak ogah, Agus Supriyono mengatakan, pengatur jalan di proyek tersebut merupakan warga setempat dan bukan bagian dari pekerja. Setiap harinya, dia bekerja bersama 15 orang lain yang dibagi dalam empat shift selama 24 jam.
Baca juga: Proyek Peninggian Jalan Kudus-Purwodadi Sebabkan Macet hingga 7 Kilometer
“Jadi ada empat shift yang bergilir setiap enam jam. Jadi ya ada yang enak dan tidak enak karena begadang tengah malam,” ucapnya, Jumat (22/7/2022).
Agus mengatakan, ia beralih menjadi pak ogah karena tempat kerjanya terpaksa tutup saat adanya pembangunan jalan tersebut. Daripada menganggur dan tak punya penghasilan, ia akhirnya ikut terjun ke jalan raya.
“Kalau pendapatan sehari itu tergantung ada yang memberi dan tidaknya mas. Sebab tidak semua pengendara itu memberi. Jadi sistem kita itu uang dikumpulkan semua kemudian dibagi rata. Setiap harinya saya bisa mengantongi uang Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” ungkap pria yang merupakan warga setempat itu.
Baca juga: Pengerjaan Peninggian Jalan Raya Kudus-Purwodadi Ditarget Rampung September
Pak ogah lain, Salim Hariyanto menambahkan, kebanyakan pemberi uang itu adalah pengendara truk muatan, pikap, dan mobil. Menurutnya, warga yang terjun mengatur jalan itu kebanyakan pekerja serabutan, mulai dari pekerja proyek, hingga sopir.
“Uangnya itu beragam, ada yang memberi Rp500 sampai paling banyak seribu,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

