Seorang pria tampak sedang menghapus make up-nyausai pementasan ketoprak di Desa Terban, Jekulo, Kudus. Setelah itu dia mengganti kostum panggung dengan hem dan celana bahan. Dia adalah Didik Candra, anggota Ketoprak Wahyu Budoyo, Pati, yang ditemui Tim Lipsus Beta News untuk diwawancara.

Didik Candra, pemain ketoprak Wahyu Budoyo saat pentas di Terban, Kudus. Foto: Kaerul Umam

Mau tidak mau saya harus dipaksa mendalami dan banyak belajar. Apa arti seni, apa itu budaya.

Didik Candra, pemain ketoprak Wahyu Budoyo

Tim Lipsus mendatangi Didik saat pentas di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, belum lama ini. Pria yang akrab disapa Didik itu mengaku menekuni seni ketoprak karena tuntutan keadaan. Dirinya kena pemutusan hubungn kerja (PHK) di sebuah perusahaan jasa yang berada di Surabaya.

Berbekal pengalaman pernah mengikuti kesenian barongan Manggolo Budoyo di desanya, Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Didik lalu bergabung dengan grup ketoprak di Pati. Meski awalnya dia belum menguasai tentang kesenian ketoprak, menurutnya tidak sulit untuk beradaptasi.

Banner Ads

“Barongan juga ada seni tarinya, wiraga, paramosastra-nya. Jadi penyesuaian tidak sulit, karena saya juga punya pengalaman berteater. Mental juga penting, karena pentas kita dibutuhkan mental,” katanya.

Didik membeberkan tentang perjalanannya membentuk mental. Mentalnya terbentuk karena sejak kecil memang sudah mencintai seni tradisional. Bahkan dia juga pernah memiliki cita-cita sebagai dalang.

“Waktu kecil memang sudah terbiasa melihat pementasan seni, khususnya wayang kulit. Saya cinta wayang kulit. Dulu cita-cita saya ingin jadi dalang tapi tidak kesampaian. Memang di Desa Berugenjang dulu banyak yang jadi pelaku seni,” jelasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini